Jhoni Marian : Saya Takut Mati Jadi Saya Bilang “Iya’

Wamena-Tim penasehat hukum terdakwa peristiwa Pisugi, Ibrahim dkk yang dituduh sebagai anggota KNPB, membuat bom molotov, melakukan aksi pembakaran dan boikot pemilu, menyoroti Barang Bukti yang diduga digunakan untuk melakukan aksi penyiksaan saat dilakukan BAP di Polres Jayawijaya.

“Bahwa saat pemeriksaan di depan persidangan saksi verbalisan Zainal Effendi mengatakan tidak ada parang atau benda lain dalam ruangan saat melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa Marthen Marian, kecuali Barang Bukti,” Ujar Simon Patiradjawane dalam persidangan di PN Wamena.(26/03/2015).

Keterangan saksi tersebut saat persidangan minggu lalu untuk membantah keterangan terdakwa yang mengatakan bahwa terdakwa disiksa saat pemeriksaan di Polres Jayawijaya bahkan sejak ditangkap di kampung Wara Pisugi.

“Di dalam Surat Tuntutan Jaksa Penuntutn Umum disebutkan Barang Bukti yang disita antara lain panah dan parang, sedangkan terdakwa menerangkan bahwa saat dilakukan pemeriksaan terdakwa dipukul dengan panah hingga patah-patah dan lengan kirinya dipotong dengan parang yang ada di atas meja sebagai Barang Bukti, maka tidak ada kesesuaian dengan keterangan saksi yang mengatakan tidak ada Parang atau benda lainnya”.

Keempat terdakwa Wara Pisugi yakni Ibrahim Marian, Marthen Marian, Jhoni Marian dan Jali Walilo mengakui di persidangan bahwa mereka disiksa sejak ditangkap di Wara.

Tangan dan leher mereka bersamaan dan mereka diseret sepert binatang. Mereka juga dipukul dnegan balok, disetrum dan sejumlah aksi penyiksaan lainnya.

Mereka sangat takut dan dipaksa mengikuti kemauan polisi termasuk dipaksa mengakui bahwa mereka yang membuat bom.

Jhoni Marian salah satu terdakwa mengatakan, saat rekonstruksi di belakang honai Yosep Siep di kampung Wara, tidak ditemukan botol kratingdaeng namun polisi memberikan botol untuk diakui sebagai miliknya.

“Saya takut  mati jadi saya bilang iya,” jawab Jhoni Marian salah satu terdakwa saat memberikan keterangan di depan saksi verbalisan. Keempat orang saksi verbalisan yang merupakan anggota Polres Jayawijaya menolak tuduhan itu meskipun terdakwa menunjukkan bekas luka yang mereka alami.(Tim/AlDP).