Jhoni Jadi Saksi Mahkota, Mengaku Disiksa Oleh Penyidik Saat Diperiksa

11 mart 15 2Wamena – “Saya mengatakan semua itu karena saya diancam, dipukul, disetrum,tanya, pukul,tanya,pukul,” demikian penjelasan Jhoni Marian yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum(JPU) sebagai saksi mahkota terhadap terdakwa Jali Walilo.

JPU menggunakan keterangan saksi mahkota untuk kasus Wara Pisugi yakni mereka yang bertindak sebagai saksi tersebut adalah terdakwa pada berkas perkara yang terpisah.

Jhoni Marian, Ibrahim Marian, Marthen Marian, Jali Walilo dan Yosep Siep dikenakan dakwaan Kesatu yakni Pasal 187 ke-1 KUHP Jo Pasal 55 ayat(1) ke-1 KUHP, atau Kedua Pasal 187 bis Ayat (1) KUHP Atau Ketiga Pasal 187 Ter KUHP Atau Keempat Pasal 164 KUHP. Mereka dituduh membuat bom Molotov dan mengancam akan boikot Pilpres 2014 lalu.

Saat memberikan keterangannya, Jhoni mengelak pertanyaan-pertanyaan JPU dengan mengatakan “tidak tahu” meskipun di dalam Berita Acara Pemeriksaan(BAP) tertera jawaban Jhoni yang sangat lugas teratur.

“Saudara saksi, tahu baca tulis”? tanya Anum Siregar, SH, MH saat memeriksa Joni pekan lalu.

Jhoni mengatakan tidak. Ketika ditanya apakah Joni membaca atau dibacakan hasil pemeriksaannya kembali setelah diperiksa, Jhoni kembali mengatakan tidak. Dirinya mengakui bahwa setelah selesai diprint, dia memberikan cap jempol dibawah namanya.

“Saya dipaksa dan disiksa, katanya kalau tidak menjawab, saya akan ditembak,” ulang dengan datar.

JPU kemudian mengatakan bahwa untuk mengkonfontir keterangan Jhoni Marian yang mengatakan disiksa saat di BAP, akan memanggil penyidik sebagai saksi verbalisan untuk diperiksa kembali.

Jhoni mengaku bahwa malam itu, Jali Walilo juga ada di rumah Yosep Siep saat terjadi penangkapan. Menurutnya mereka ada di rumah Yoseph karena baru mengikuti ibadah atas permintaan Atis Walilo.

Sidang akan dilanjutkan pada rabu tanggal 11 maret 2015.(Tim/AlDP).