Jembatan di Jalan Trans Papua Butuh Renovasi

Jembatan di Jalan Trans Papua Butuh Renovasi

Boven Digoel – Belasan Jembatan di Jalan Trans Papua butuh perbaikan. Badan jembatan yang tak mampu menahan berat kendaraan, rawan terjadi kecelakaan. “Ada beberapa rusak, kebanyakan jembatan kayu, kalau hujan dan banjir, kayunya ikut terbawa arus,” kata Amirudin, warga Tanah Merah.

Ia mengatakan, jembatan rusak menghambat perjalanan ke Tanah Merah, Boven Digoel. Jarak yang hanya sehari menggunakan roda dua atau roda empat, bisa seminggu menunggu perbaikan jembatan. “Kalau lewat dan kita lihat, beberapa sementara diperbaiki dengan konstruksi besi. Masalahnya adalah, jembatan kayu sebelum Asiki atau setelah lewat kelapa sawit, itu parah,” ujarnya.

Beberapa kecelakaan fatal pernah terjadi di jembatan dekat Tanah Merah. “Ada truck terbalik, ada juga ban mobil masuk dalam sela kayu jembatan. Kalau tidak ada bantuan, kendaraan bisa lama di hutan,” ucapnya.

Jembatan yang terdapat di sepanjang jalan Trans Papua ­­­­hanya mampu bertahan dua bulan. “Karena sering dilalui kendaraan berat, akhirnya cepat rusak. Butuh biaya besar bikin baik, itulah sebabnya dibiarkan begitu saja,” katanya.

Menurutnya, jembatan rusak bukan persoalan tidak ada bahan untuk merehab. “Tapi niat pejabat berwenang yang tidak ada. Anggaran ada, bahan ada, kalau kemauan tidak ada, sama saja. Dari tahun ke tahun kita lihat jembatan begitu begitu saja. Kapan baiknya.”

Maret Klaru, Ketua Dewan Adat di Boven Digoel mengungkapkan pihaknya pernah menyampaikan persoalan jembatan rusak pada pemerintah. “Tapi jawabannya, itu adalah jalan propinsi, sehingga perbaikan dikerjakan propinsi, kalau sudah begitu, kita mau bilang apa lagi, akhirnya masyarakat yang sengsara,” katanya.

Ia pesimis seluruh jembatan dari Muting, Merauke sampai Tanah Merah, dapat direnovasi total dalam tahun ini. “Saya sangsi, buktinya saja sekarang, proyek jembatan sementara jalan, tapi kontraktornya mogok, alasannya pemerintah belum mencairkan anggaran tahap berikut, bagaimana mau cairkan, bupatinya saja tidak ada, ada dipenjara,” katanya.

Dari pantauan ALDP, sangat tidak nyaman berkendara melalui jalan darat ke Tanah Merah. Selain berlumpur tebal, jembatan rusak membuat pengemudi harus ekstra hati-hati menyetir. Salah sedikit, resikonya masuk jurang. “Kalau masuk jurang, itu tidak jadi masalah, persoalan berat adalah, masuk jurang dan tertahan lumpur, ucapkan saja selamat tinggal,” kata Klaru. (02/ALDP)