Jejak ‘Kampung Slam’ di Armopa Bonggo

Jejak ‘Kampung Slam’ di Armopa Bonggo

Sarmi – Jejak Kesultanan Tidore tempo dulu yang dibawa para pedagang dari Ternate, ternyata masih dapat dijumpai di Kampung Armopa, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi.

Kampung Armopa ditempuh sekitar lima jam perjalanan darat dari Sentani Jayapura atau sekitar 3,5 jam dari Kota Sarmi.

Begitu memasuki Kampung, pengunjung akan langsung disuguhi sebuah masjid tua berbentuk pendopo kesultanan. Masjid itu berhadapan dengan SMP Negeri 1 Bonggo. Pintu dan jendelanya entah kemana. Sebagian jendela ditutup menggunakan tripleks.

Didalam masjid itu, terdapat perahu-perahu berumur puluhan tahun. Perahu tanpa pemilik itu sengaja disimpan rapat. Warga kampung begitu menghormatinya.

Di tempat tidak jauh dari masjid, terdapat beberapa kuburan tua. Ada nisan dan kuburan diperkirakan milik keturunan Tionghoa dan Belanda. Lokasi kuburan terletak di halaman belakang SMP. Tidak terawat. Sebagian besar dikelilingi rumput dan tertimbun tanah.

Menurut Sefnat Wende, Ketua Lembaga Masyarakat Adat Armopa, awalnya kedatangan pedagang dari Ternate – diperkirakan tahun 1921 – adalah untuk mencari burung kuning (Cenderawasih), mengumpulkan kopra serta kulit buaya. Mereka memakai kapal  kayu. Berlayar berbulan-bulan, menyusuri pesisir Demta,  Bonggo, Pantai Timur hingga Sarmi Kota.

Pedagang ini kemudian membangun pemukiman yang diberi nama “Kampung Slam atau Kampung Ternate” termasuk mendirikan masjid. Ada puluhan orang Ternate yang menetap dan memenuhi kebutuhan hidup mereka sebagai nelayan.

Dulu, ketika mereka rajin mengumpulkan kopra, pohon-pohon kelapa di sekitar kampung terlihat bersih. Sebab orang Ternate dan pekerjanya langsung memanjat pohon dan membersihkan areal sekitar pohon.

Berbeda dengan kondisi saat ini, pohon-pohon kelapa sudah seperti ‘hutan’. Warga hampir tidak pernah memanjat pohon kelapa lagi. Mereka hanya mengumpulkan kelapa kering yang sudah jatuh dan menunggu pembeli masuk kampung.

“Tanah kami ini dibangun oleh Sultan Tidore, bukan orang Belanda,” demikian kata Sefnat Wende, saat ditemui pekan lalu. Menurutnya, Orang Armopa dan sekitarnya mengenal cara mengolah kayu untuk membuat rumah, menggunakan peralatan kerja atau keperluan lainnya dari para pedagang Ternate.

Perantau dari Ternate ada yang kembali ke Ternate dan ada yang menikah dengan perempuan-perempuan Bonggo. Salah satu turunannya adalah Siti Istofel yang kini bekerja di kantor Distrik Bonggo. Perawakan Siti dan adiknya Susanti mirip dengan perempuan pesisir Bonggo.

Siti tidak sendiri, di kampung Kaisau ada tete Mohammad yang terkenal jago mencari ikan. Ismail Sehe di Taronta serta Karim Jamrud dan Musyakin. Mereka sekitar 12 keluarga. Tersebar juga di SP2, SP4 dan SP6. Diperkirakan yang ada sekarang merupakan generasi ketiga.

Siti berharap pemerintah memperhatikan keberadaan mereka. Utamanya, bantuan untuk rehab masjid agar dapat digunakan kembali. (Tim/AlDP)

 

  • Musa

    Mohon dikoreksi masjid tsb dibangun oleh batalyon 753 kabaresi sekitar awal tahun 90an..trims

  • Paket Wisata Dieng

    wahh kampung yang sangat indahh

    Wisata ke Dieng bareng keluarga yukk
    klik Paket Wisata Dieng