Berita

Jalan Rusak, Pemerintah Tak Acuh

Boven Digoel – Sebagian ruas jalan di Kota Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel rusak berat. Butuh perbaikan segera.

“Lihat saja jalan masuk ke Tanah Merah, hancur, didalam kota memang semuanya beraspal, tapi bagaimana dengan di pinggiran atau dikampung kampung, jadi jangan pemerintah bilang sudah berhasil membangun,” kata Maret Klaru, Ketua Dewan Adat Nusantara di Boven Digoel, belum lama ini.

Ia mengatakan, pembangunan kota biasanya dinilai dari jalan sebagai sarana transportasi. “Kalau rusak, itu pertanda daerah itu belum maju, saya kira pemerintah jangan konsen untuk yang lain, perbaiki dulu jalan, pasti ekonomi berkembang dan pendidikan akan membaik,” katanya.

Bonefasius Konotigop, mantan Sekertaris Daerah mengatakan, kerusakan terjadi semenjak Boven Digoel masih berada dalam payung pemerintahan Kabupaten Merauke. “Tapi tidak pernah ada perbaikan, serba salah juga, jalan diperbaiki, tapi kalau hujan, rusak lagi, ada faktor alam yang sangat mempengaruhi. Disini butuh konsentrasi ekstra untuk terus memantau,” katanya.

Menurut dia, jalan rusak rawan kecelakaan. Saat hujan, lumpur merah terlihat hingga setinggi rumah. Jika panas, berdebu. “Bayangkan saja, ada pengendara yang sampai berhari-hari tertahan akibat lumpur tebal. Ini masalah klasik. Masyarakat sudah ratusan kali mengeluh, tapi tak ada jawaban dari pemerintah.”

Boven Digoel terkenal dengan jalan lumpur yang penuh bahaya. Meski begitu, banyak orang menyukai petualangan ini. Resikonya, ya harus berhari-hari tertahan di tengah hutan belantara.

Daerah bersejarah itu dikenal dunia pula sebagai tempat pembuangan tokoh kemerdekaan Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1927-1941 menjadikan Boven Digoel daerah ‘mematikan’ karena terletak di tengah hutan yang banyak hewan liar.

Nama tokoh yang pernah merasakan sengsara penjara Digoel diantaranya Bung Hatta, wakil presiden pertama RI, Sayuti Melik, dan pengetik Naskah Proklamasi Kemerdekaan RI. Ada juga Muchtar Lutffi, Ilyas Yacup, Sutan Syahrir, dan Mas Marco Kartodikromo.

Untuk mengenang Bung Hatta, ditengah kota Tanah Merah, dibangun patung atau monumen Hatta. “Ini aset wisata, tapi dipertanyakan kembali, patungnya berdiri megah, tapi sayang, rumah tempat beliu pernah tinggal, sekarang tinggal lantai dasar, bangunannya roboh, dimana pemerintah yang menghargai pahlawan bangsa,” kata Konotigop.

Mempromosikan wisata Boven Digoel, pemerintah setempat mengikuti Tong Tong Fair 2012 di Malieveld, Den Haag, Belanda. Promosi wisata pada 17- 28 Mei 2012 itu diikuti Tim Kesenian Boven Digoel yang juga turut meramaikan ajang Venlo World Expo Floriade 2012 di Venlo, Limburg, Belanda.

Kegiatan 10 tahunan yang berlangsung selama enam bulan, pada 4 April – 7 April 2012 itu, diikuti peserta dari 40 negara. Para penari Boven Digoel membawakan sedikitnya tujuh tarian tradisional seperti tari Tre-tre Kukpran, Loka Tinggop, Wambot Ngop, Kenkdon, Tetereop Banggolo, dan Bumbu Ne Danggop. “Silahkan saja promosi wisata, tapi lihat juga masalah dalam daerah, jangan bilang Boven Digoel diluar negeri bagus dan luar biasa, tapi didalam berantakan,” pungkas Konotigop. (02/ALDP)