Berita

Jakub Fabian Skrzypski : Warga Negara Asing Yang Pertama Dikenakan Pasal Makar

Jakub Fabian Skrzypski : Warga Negara Asing Yang Pertama Dikenakan Pasal Makar

Jayapura.JAKUB FABIAN SKRZYPSKI (JFS) warga Polandia dituduh melakukan tindak pidana percobaan kejahatan terhadap keamanan negara. Polisi menetapkan Jakub telah melanggar Pasal 106 KUHP dan atau Pasal 110 KUHP dan atau Pasal 111 KUHP jo Pasal 53 KUHP dan 55 KUHP.

Pasal 106 KUHP adalah tuduhan terhadap mereka yang diduga melakukan makar. Makar dengan maksud supaya seluruh atau sebagian wilayah negara jatuh ke tangan musuh atau memisahkan sebagian dan wilayah negara, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Pasal ini dikaitkan dengan Pasal 110 KUHP, yakni permufakatan jahat : Permufakatan jahat untuk melakukan kejahatan menurut pasal 104, 106, 107 dan 108 diancam berdasarkan ancaman pidana dalam pasal-pasal tersebut. Artinya dugaan makar ini didahului dengan suatu permufakatan atau kesepakatan. Ini menandakan ada lebih dari seorang yang dituduh melakukan tindak pidana tersebut. Terhadap Jakub, polisi menuduhnya melakukan bersama Simon Magal(SM). SM ditangkap di Timika tanggal 1 September 2018. Keduanya ditangani langsung oleh Satuan Tugas Khusus (Satgassus) Papua dan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Papua.

Mereka juga dikenakan Pasal 111 KUHP ayat(1): Barang siapa mengadakan hubungan dengan negara asing dengan maksud menggerakkannya untuk melakukan perbuatan permusuhan atau perang terhadap negara. memperkuat niat mereka, menjanjikan bantuan atau membantu mempersiapkan mereka untuk melakukan perbuatan permusuhan atau perang terhadap negara, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pasal ini menekankan perbuatan pidana yang ada hubungannya dengan pihak asing yakni ketika seseorang melakukan makar dengan meminta bantuan pada Pihak Asing.
Kemudian Pasal 53 KUHP yang dikenakan untuk menandakan bahwa perbuatan tersebut dalam kategori’ percobaan’. Dalam hukum pidana di Indonesia, percobaan dalam melakukan kejahatan tetap dikenakan sanksi pidana, berbeda jika percobaan dalam melakukan pelanggaran.

Sedangkan Pasal 55 KUHP dikenal dengan istilah ’penyertaan’ (deelneming) artinya dalam tindak kejahatan tersebut, dilakukan secara bersama-sama. Penyertaan selalu memerlukan penjelasan lebih rinci sebab ada perbedaan peran diantara masing-masing pelaku, misalnya siapa yang melakukan, menyuruh melakukan dan turut melakukan, memberikan perjanjian, salah memakai kekuasaan atau pengaruh, kekerasan, ancaman atau tipu daya atau dengan memberi kesempatan, daya upaya atau keterangan, sengaja membujuk untuk melakukan sesuatu perbuatan.

JFS adalah warga asing pertama yang dituduh melakukan makar. Meski sebelumnya, di tahun 2014, polisi sempat mencoba untuk mengenakan pasal tersebut kepada 2 orang warga Perancis yakni Thomas Dandois (40 tahun) dan Valentine Bourrat (29 tahun) sedang bekerja untuk televisi Perancis-Jerman. Dandois ditangkap di sebuah hotel di kota Wamena bersama tiga orang Papua yang dituduh oleh polisi sebagai anggota OPM. Keduanya dikaitkan dengan seorang kepala suku Lanny Jaya(Areki Wanimbo) dengan tuduhan(awal) melakukan perdagangan senjata untuk mendukung gerakan separatis. Namun kedua warga Perancis akhirnya disidang atas tuduhan penyalahgunaan visa di Pengadilan Negeri Klas I A Jayapura. Terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman penjara selama 2,5 bulan. Sedangkan Areki Wanimbo, tetap dengan tuduhan melakukan makar. Areki pun bebas dari tuduhan tersebut setelah melalui sidang pembuktian di Pengadilan Negeri Wamena.

JFS, warga Polandia yang memiliki izin tinggal di Swiss sejak sekitar 10 tahun lalu, berusia 39 tahun pernah menempuh pendidikan di Universitas Warsaw(2001-2003) dan Universitas Lausanne(2009-2012). Sempat bekerja di Inggris tahun 2004-2009(kota Leicester) dan pada tahun 2012-2018 bekerja di Medelec SA,Puldoux Switzerland. Dia pertama kali datang ke Indonesia desember 2007. Dia pertama kali datang ke Papua juni 2018. Sorong, Jayapura, Timika dan Wamena adalah tempat-tempat yang pernah dikunjungi selama di Papua.

Jakub memiliki banyak teman di seluruh Indonesia terutama di Jawa dan Bali yang dia kenal melalui internet, facebook(fb) juga teman dari Papua, seperti di Timika ada seorang guru privat bahasa Inggris. Ketika akan berkunjung ke Papua, JFS menanyakan sejumlah nama yang bisa dia temui di Papua kepada teman fb nya yang bernama Rafal. Jakub sendiri belum pernah bertemu dengan Rafal. Rafal yang sudah memiliki kontak dengan sejumlah teman di Papua, memberikan referensi sejumlah nama.

Di Papua, JFS mengunjungi sejumlah teman yang direkomendasikan oleh Rafal dan teman-teman telah dia kontak sebelumnya melalui fb. JFS yang memiliki ketertarikan pada budaya dan sejarah mengunjungi museum Uncen dan Balai Bahasa di Yoka. Dia mendapatkan sejumlah foto Jayapura tempo dulu. Dia juga mengunjungi Pantai Base G, Festival danau Sentani, makam dari Silas Papare(Doyo) dan Nicolas Jouwe(Pulau Kosong).

JFS mengunjungi Taman Imbi Jayapura, ke gedung DPRP bahkan ke gereja Harapan Jayapura. Dia mendapatkan beberapa foto tempo dulu. JFS juga mengunjungi beberapa cafe untuk menikmati kopi tanpa gula dan makanan kesukaanya, nasi goreng. Salah satu cafe favoritnya adalah Humbolt Cafe. JFS datang seorang diri, menikmati makanan kesukaannya, kadang dia datang pagi dan malam.

JFS, pertama kali ditemui polisi adalah di Wamena tanggal 26 Agustus 2018, saat itu dia dibawa ke kantor Polres Jayawijaya di Wamena bersama teman guidenya EW. JFS ditanya kapan akan kembali ke Jayapura, dirinya mengatakan sudah memutuskan bahwa besok akan kembali ke Jayapura. Aparat kepolisian, menawarkan akan membelikan tiket untuknya. JFS mengatakan dia akan memesan sendiri namun polisi tetap menyakinkan akan membelikan tiket untuknya. JFS diijinkan untuk balik ke penginapan di Penginapan Mas Budi. Namun EW, guidenya, tidak diijinkan pulang dan bermalam di Polres Wamena.

JFS, dijemput pagi hari di penginapannya, dibawa ke bandara dan diterbangkan ke Jayapura untuk selanjutnya dibawa ke Polda Papua bersama dengan EW. Mereka berdua diperiksa secara terpisah, setelah bermalam sehari, JFS barulah diberikan Surat Perintah Penangkapan dan Surat Perintah Penahanan. Sedangkan EW, dibebaskan oleh Polda Papua.
JFS menolak semua tuduhan yang diberikan kepadanya. JFS mengatakan bahwa dirinya bukan jurnalis juga bukan sebagai separatis. JFS oleh teman-temannya di kenal sebagai traveler ekstrim, dimana hobinya adalah mengunjungi tempat-tempat yang penuh dengan dinamika atau konflik. Dia kemudian mempelajari sejarah tempat itu, adat budaya, bahasa dan juga kepercayaan yang ada. JFS sangat terpukul dan stres dengan proses hukum yang dijalaninya.

JFS mengatakan ’i never had any arms ammunition nor propaganda materials on me. I never wrote any book or article. Iam not a blogger or a filmmaker, jorunalist or activist”. JFS juga mengatakan bahwa dirinya bukanlah pelatih militer’ iam not a military training nor such background. Iam not a trader in arms or anything else”.
JFS menulis pertanyaan kepada penyidik di Polda Papua, Why the police keep on showing me my pictures from switzerland as an evidence against me? And a pictures in which I shake hands with someone this is supposed to be proof of what?. You are trying to frame me for political/ambition/personal gain reason. They doesn’t have any grounded evidence against me. It is based mostly on my pictures made in Switzerland (my country residence) and in Papua but with people that are not wanted by the police.

JFS sangat gemar membaca, buku-buku bacaan yang sangat tebal, dihabisi dalam waktu 3-4 hari. Dia juga memiliki hobi menulis, membuat catatan tentang apa yang dia lihat, alami, rasakan dan pikirkan.Selama di rumah tahanan polda Papua, banyak sekali yang di tulis.

JFS lahir dan besar di eropa bagian timur,wilayah yang cukup besar dan memiliki sedikit populasi. Tempat dimana setiap personal memiliki ruang yang cukup besar. Mereka tidak tidak terlalu dekat satu sama lain. Maka dia menjadi sangat stres ketika berada di dalam sel kecil dengan orang yang sangat banyak,’ like in a bus’. Is so claustrophobic and traumatic. JFS menggambarkan aktifitas para tahanan di dalam sel yang sangat padat dan sempit itu, setiap harinya hanya dapat berbicara tanpa melakukan apapun, sebagian hanya makan bagi yang memiliki makanan untuk menghindari kebosanan atau bermain domino sendirian atau hanya menatap ruang sempit dan pengab yang menyedihkan.

Apalagi kondisi tahanan yang sangat padat yakni sebanyak 52 orang dari kapasitas 25 orang. Katanya, mereka tidur secara bergantian, tidak ada alas tidur yang layak, kecuali matras yang sangat tipis dan sebagian tidur di lantai. Mereka juga menggunakan toilet secara bersamaan untuk mandi, cuci peralatan makan dan cuci pakaian secara. Di tahanan tersedia, galon air akan tetapi setiap hari, mereka kekurangan air minum karena penghuni yang banyak. Untuk menambah galon, maka harus membayar dan biaya yang memberikan uang adalah penghuni tahanan yang ‘kaya’. JFS juga menolak makanan yang diberikan, menurutnya, makanan tersebut tidak layak, beberapa teman nya sempat melakukan aksi mogok makan, menolak makanan yang menurut mereka terlalu sedikit.

Dia juga menanyakan barang-barang miliknya yang tidak menjadi bagian dari barang bukti namun masih dalam penguasaan penyidik. Hingga beberapa waktu kemudian barulah diserahkan kepadanya setelah PH nya mengirim surat resmi meminta barang-barang tersebut.

Setelah menjalani pehananan selama 20 hari pertama dan 40 hari perpanjangan berdasarkan kewenangan kepolisian, maka penahanannya diperpanjang oleh Pengadilan Negeri Klas I A Jayapura selama 30 hari terhitung dari tanggal 27 Oktober 2018 sampai dengan tanggal 25 November 2018. Kemudian diperpanjang lagi oleh pihak kejaksaan hingga akhir desember 2018.

JFS Dipindah dan Menjalani Penahanan di Wamena

Hari kamis tanggal 2 November 2018, JFS dan SM dilakukan tahap 2 yakni serahterima tahanan dari kepolisian ke kejaksaan. Mereka dipindahkan ke Wamena. Setelah penyelesaikan adminsitrasi di Kejaksaan Negeri Wamena, JFS dan SM dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan(Lapas)Wamena. Dimana tempat tahanan biasa berada sambal menunggu dan menjalani persidangan. Sesampai di Lapas Wamena, menyelesaikan kelengkapan administrasi termasuk pengambilan gambar, Kepala Lapas Wamena meminta agar JFS dan SM dititipkan ke rumah tahanan Polres Wamena. Kalapas mengatakan tidak sanggup menjaga keduanya karena kasus yang mereka hadapi, dikhawatirkan akan lari atau dapat memprovokasi para tahanan lainnya. Lapas Wamena dikenal sebagai lapas yang sering kali para tahanan melarikan diri.

Maka keduanya dibawa ke rutan Polres Jayawijaya di Wamena. “Kondisi di tahanan Polres Wamena jauh lebih buruk dari kondisi tahanan di Polda Papua,’ ujar JFS. Tidak ada air gallon untuk membuat minuman hangat, tidak ada televisi. Ruang sel yang sangat kecil dengan kamar mandi yang tak terurus. Air yang sangat kotor. Ruang tahanan yang dingin dan ada nyamuk. Ruang sel seperti kandang binatang, katanya.

JFS tidak bersedia makan makanan yang dibawa dari lapas Wamena, makanan dengan nasi yang sangat banyak dan sedikit sayur. JFS menulis surat kepada kalapas menolak itu. ”Please stop sending me these meals, I’ve never touched them. Mereka dikirimi air minum yang dimasukan dalam plastik seperti plastik untuk membuat es batu, lalu diikat karet. JFS, hanya memakan makanan yang dibawa oleh teman-temannya dari luar. Demikian juga yang dilakukan oleh SM, dirinya tidak menyentuh makanan yang diantar dari Lapas Wamena.

Pada tanggal 11 November 2018, saat JFS ditemui di Rutan Polres Jayawijaya di Wamena, dia masih mengeluhkan kondisi tahanan yang buruk. Tak ada aktifitas yang dapat dilakukan, kecuali tidur. JFS tetap mencoba untuk mengatasi kebosanan dengan membaca buku yang dikirim oleh teman-temannya dan juga Konsul Polandia. Dia pun menulis banyak catatan dan mulai lebih banyak mengenal teman-teman yang satu sel dengannya.

Selain itu JFS tidak pernah absen menulis surat. Dia menulis surat buat kalapas, Kapolda Papua, penyidik Polda, pihak Konsul, teman-temannya dan juga Pengacaranya. Hampir tidak ada hal yang luput dalam catatannya. Dia lebih banyak menulis dalam keadaan lapar namun dia tetap menolak makanan yang disediakan di dalam rumah tahanan. Katanya,“Saya seringkali lapar tapi lebih membutuhkan aktifitas intelektual untuk mengatasi rasa bosan’.

Dia bertanya tentang hukum di Indonesia yang baginya sangat tidak adil. Di dalam Surat perintah Penangkapan tertulis di ditangkap di Jayapura, sedangkan SM ditangkap di Timika tapi mengapa kami harus menjalani sidang di Wamena?. Jika saya seharusnya di lapas Wamena, mengapa saya dititip di Polres Wamena?. Pertanyaan itulah yang setiap saat dia lontarkan kepada petugas tahanan di Polres Jayawijaya di Wamena.

JFS terus bercerita mengenai kronologis penangkapannya, kondisi rumah tahanan yang memprihatinkan, kondisi teman-temannya di dalam tahanan.JFS bahkan sering menanyakan beberapa temannya sesama tahanan yang masih berada di Polda Papua. JFS juga menulis surat kepada teman-temannya di luar Papua termasuk di Polandia, Swiss dan Perancis yang sebagian besar, ‘dijumpainya’ melalui facebook. Mereka secara sungguh-sungguh memberikan dukungan dan tidak menyangka bahwa JSF berada di balik jeruiji hukum Indonesia.

Tanggal 17 November 2018, ketika JFS akan ditemui di rutan Polres Wamena, Polisi tidak memberikan ijin. Kasat Tahti Polres Jayawijaya memberikan alasan bahwa ada perintah dari kapolres Jayawijaya, semua pengunjung tidak diijinkan masuk untuk bertemu dengan para tahanan. Perintah ini adalah perintah lisan tanpa juga menyebutkan kapan larangan ini akan berakhir. 3 hari sebelumnya, saat Pastor John dan paman dari SM akan menemui mereka, sudah mendapatkan larangan. Meskipun pastor John dan rombongan sempat ke Kejaksaan Negeri Wamena dan bertemu dengan kepala Kejaksaan Negeri Wamena. Lalu pihak kejaksaan, memberikan surat ijin, akan tetapi, surat tersebut bahkan tidak dibuka oleh polisi dan tetap melarang pastor John dan rombongan.

Maka, pada tanggal 17 November 2018, Pengacara JFS harus bernegosiasi panjang lebar dengan kasat Tahti. Kasat tahti sendiri tidak berani menghubungi langsung kapolres Jayawijaya. Dirinya mengatakan sudah mencoba menghubungi Kabag Ops namun Kabga Ops tidak memberikan jawaban apapun. Kemudian menghubungi kasat reskrim, namun tetap dengan alasan yang sama bahwa ada perintah dari Kapolres Jayawijaya untuk tidak memberikan ijin kunjungan kepada siapapun.
Kemudian Pengacara JFS menghubungi Kepala kejaksaan Negeri Wamena, karena status JFS juga SM adalah tahanan kejaksaan. Aneh juga, sebagai PH yang datang dari jauh menggunakan pesawat, tidak diijinkan tanpa alasan yang jelas. Bahkan Pihak Polres sempat meminta surat dari pihak Kejaksaan.

“Saya juga tidak mengerti mereka, kemarin sudah dikasih surat tapi juga tidak mereka ijinkan. Ibu, tolong tanya sebenarnya mereka itu tahanannya Kejaksaan atau polisi,” jelas Kapala Kejaksaan Negeri diujung telepon saat dihubungi oleh Pengacara JFS. Lalu negosiasi dilakukan kembali selama sekitar 1,5 jam hingga diijinkan masuk. Ketika ditemui di dalam ruang tahanan, JFS dan SM tidak alasan apa yang menyebabkan kapolres Jayawijaya melarang mereka dikunjungi, bukan hanya mereka tetapi seluruh tahanan yang ada.

Hingga hampir 1 bulan JFS dan SM di Wamena, belum ada tanda-tanda bahwa kejaksaan akan melimpahkan berkas mereka ke Pengadilan Negeri Wamena. Bahkan salah seorang PH yakni Yance Tenoye SH yang sempat bertemu dengan salah seorang Jaksa di Pengadilan Negeri Wamena, JPU mengatakan bahwa masa penahanan keduanya akan diperpanjang, Hal ini sangat berbeda ketika keduanya dilimpahkan di Kejaksaan Negeri Wamena tanggal 2 November 2018, saat itu JPU mengatakan, bahwa mereka memiliki 20 hari pertama dan berkas keduanya akan dilimpahkan sebelumnya 20 hari tersebut berakhir. Akhirnya perpanjangan masa penahanan mereka benar diterbitkan hingga tanggal 21 desember 2018.

Tanggal 27 November 2018, barulah keluarga para tahanan diijinkan masuk, itu pun hanya boleh ‘ 5 menit’ sesuai perintah kapolres Jayawijaya, demikian informasi dari penjaga tahanan. Namun PH JFS dan tim, diijinkan untuk menggunakan waktu lebih lama karena dengan alasan memerlukan waktu untuk diskusi mengenai penanganan kasusnya. Para tahanan yang ditemui mengatakan bahwa, ijin diberikan oleh kapolres karena mereka menolak untuk makan sejak 2 hari lalu. Makanan yang diberikan, tak satupun dimakan oleh penghuni ruang tahanan. Mereka mengatakan, baru akan makan bila keluarga mereka diijinkan untuk datang menjenguk.

Hingga kini dia masih menolak makan makanan yang dikirimkan oleh kalapas Wamena, katanya makanan tersebut lebih mirip untuk makanan babi. JFS juga menolak tawaran pihak kepolisian yang memberikan waktu kepada para tahanan untuk short of a walk outside alias berjemur diluar. Kata JFS : the inmates with tied hand to hand with those from the same cell and let outside just to sit down and do nothing else. like slaves or animals led to market(narapidana dengan tangan terikat satu sama lain dari sel yang sama dan membiarkan di luar hanya untuk duduk dan tidak melakukan apa pun. Seperti budak atau hewan yang dibawa ke pasar).

Adapun mengenai kondisi ruang tahanan dan fasilitas yang dikeluhkan oleh JFS maka pihak kedutaan Polandia telah mempertanyakan hal tersebut melalui surat resmi kepada Kejaksaan Negeri Wamena.”Itu sudah standar ruang tahanan,”Ujar Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Wamena, tanpa merinci ataupun membalas secara resmi surat dari Kedutaan Polandia.

Disituasi yang penuh kebosanan dan rasa kecewa serta marah, tentu membaca adalah ‘hiburan’ baginya. Normally i would need a new one every 3-4 days. I Knew it’s impossible. I can not make l library here. Otherwise, i have nothing. Dia mengeluhkan air yang ada di kamar mandi, menurutnya air di kali/sungai lebih jernih.
Di bagian lain, JSF mengatakan, i still dont understand the investigators suspicions is talking to KNPB a crime itself?.They (the investigator) told to me that i should feel guilty and ’suffer for my mistakes’. So,dealing with people who have a different political opinions is a crime.

Tanggal, 3 Desember 2018, ketika JFS ditemui, ruang tahanan polres Jayawijaya dipenuhi oleh keluarga para tahanan karena sedang ada perayaan natal. Para keluarga berdesakan di lorong yang sempit, di tengah-tengah ruang sel. Sementara para tahanan tetap berdiam di dalam ruang sel. Mereka hanya dipertemukan melalui jeruji yang berfungsi sebagai pintu. Tidak ada yang berubah, nampak masih dalam suasana yang tidak pasti dan membosankan. Kondisi JSF dan SM, tidak begitu sehat, mereka berdua mengeluh sakit.

Dari pihak Pengadilan Negeri Wamena, makin jelas informasinya, bahwa hingga kini pengadilan kekurangan hakim, tinggal 3 hakim. Mereka menyampaikan bahwa akan ada pengiriman hakim baru(ketua) namun belum ada kepastian mengenai kedatangannya ke Wamena. Maka bisa jadi sidang baru akan dimulai pada januari 2019. Di kejaksaan Negeri Wamena, Kajari juga memberikan info yang sama. Kajari menjelaskan bahwa pihak kejaksaan siap akpan saja untuk melimpahkan berkas JFS ke Pengadilan akan tetapi pengadilan yang meminta agar jangan dulu dilakukan karena masih kekurangan hakim. Bahkan pihak kejaksaan negeri Wamena,meminta agar pihak pengacara membantu untuk mendesak Pengadilan Tinggi Papua melalui surat resmi.

Namun setelah pelantikan hakim ketua PN Wamena tanggal 11 desember 2018, sidang petama JFS digelar pada tanggal 17 Desember 2018. Sidang dipimpin oleh Hakim ketua Yajid, SH, MH beserta hakim anggota Roberto Naibaho, SH dan Ottow W.T.G.P Siagian, SH. Sidang pembacaan dakwaan belum dapat dilakukan karena belum ada penterjemah bagi JFS. JPU yang memiliki kewajiban untuk menghadirkan penterjemah mengatakan bahwa penterjemah belum dapat hadir karena masih berada di luar daerah dan tidak ada penerbangan/tiket untuk ke Wamena. Maka sidang ditunda hingga tanggal 8 Januari 2019. JFS dan SM kembali menempat sel mereka di Rutan Polres Wamena.

(Ditulis oleh Latifah Anum Siregar : Tim PH dari Koalisi LSM HAM dan Demokrasi di Papua).