Istri Korban Bantah Suaminya Penjahat

Istri Korban Bantah Suaminya Penjahat

Jayapura – Istri korban penganiayaan yang diduga dilakukan oknum kepolisian di Depapre, Kabupaten Jayapura 15 Februari 2013, membantah suaminya terlibat kejahatan serius.

“Matan hanya seorang petugas cleaning servis, bukan pelaku kejahatan,” sanggah Dominggas Kromsiam, istri Matan saat bertemu tim penasehat dari Aliansi Demokrasi untuk Papua di Sentani, Rabu.

Matan merupakan satu dari dua orang yang ditahan kepolisian karena membawa alat tajam. Sebelumnya polisi menahan tujuh orang, namun kemudian lima diantaranya dibebaskan. Bersama Dago/Daniel Gobay, Matan dikenakan Pasal 2 ayat (1) UU Darurat RI. No. 12 Tahun 1951.

Dominggas menjelaskan, bahwa pada saat kejadian Jumat (15/2/2013) lalu, Matan sedang menggunakan sepeda motor berencana menuju Kampung Yepase. “Dia ke Yepase dulu untuk menyiapkan keperluan anak kami yang akan ulang tahun, setelah itu dia akan balik ke rumah, jemput saya dan kami pergi sama-sama,” kata Dominggas.

Matan, karyawan cleaning servis di RSUD Jouwarry, sementara Dominggas bekerja sebagai cleaning servis di Kantor Bupati Jayapura. Keduanya selalu bepergian menggunakan sepeda motor. “Saya tunggu-tunggu tapi dia belum kembali. Baru saya dengar dia ditangkap, dipukul dan dibawa ke Polsek Depapre,” katanya pilu.

Dominggas langsung menuju ke Polsek Depapre, namun ternyata Matan telah dipindahkan ke Polres Sentani. Ia pun bergegas. Setibanya di kantor polisi, Dominggas tidak diijinkan bertemu suaminya. “Lagi diperiksa, begitu alasan polisi,” ujarnya.

Keesokan harinya, Sabtu (16/2/2013), Dominggas kembali ke Polres Sentani. Ia mendapatkan informasi bahwa lima orang lainnya sudah dipulangkan. ”Suami saya tidak, saya dikasih surat perintah penahanan selama 20 hari,” katanya.

Ia kemudian meminta diijinkan bertemu Matan. “Suami saya bilang dia ditahan karena bawa Kapak, sama seperti Dago karena dia bawa sangkur, saya kecewa sekali,” ucap Dominggas.

Menurutnya, Matan memang sering membawa Kapak untuk berjaga-jaga dalam perjalanan antara rumah mereka (di Depapre) dan RSUD yang cukup jauh. “Takut kalau ada gangguan di jalan. Suami saya bukan penjahat. Siapa yang mau menjamin keselamatan kami, bawa kampak bukan suatu kejahatan untuk budaya kami, itu untuk jaga-jaga karena situasi yang kadang rawan,” jelasnya. (Tim/AlDP)