Istilah 'Pendatang' dan 'Papua' Minta Dihilangkan

Istilah 'Pendatang' dan 'Papua' Minta Dihilangkan

Nabire – Istilah ‘pendatang’ dan ‘Papua’ harus dihilangkan. Pernyataan ini dapat menimbulkan jurang pemisah dan  berakibat kurang baik dalam interaksi sosial serta kehidupan bermasyarakat di Papua.

“Penyebutan pendatang seperti kami hidup sementara saja di Papua, seperti orang asing, padahal kami sudah puluhan tahun beranak cucu di sini,” kata Djaelani, peserta pada Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai, Selasa (27/11/2012).

Menurut dia, istilah pendatang sebaiknya diganti dengan langsung menyebut asal atau suku, misalnya Suku Jawa, Suku Batak, Suku Bugis dan sebagainya, seperti di tempat (provinsi) lain.

Peserta Forum Kajian memahami situasi hari ini di Papua telah membuat pendatang lebih memahami dirinya karena ada pemihakan yang harus diberikan buat orang Papua.

“Ada pandangan pendatang berperan dalam menguasai system, ada benar, ada tidak, tapi kalau dalam birokrasi, orang Papua tetap mendominasi. Pendatang memang menguasai perekonomian sebab untuk masuk di birokrasi sudah tidak bisa lagi,” kata Ruben Lanny perwakilan dari Toraja.

Yang bisa mengubah situasi adalah elit-elit Papua. “Kalau kita sebagai masyarakat hanya ikut saja. Pemerintah harus mampu untuk menjaga dan membangun kebersamaan diantara masyarakatnya agar tidak mudah berkonflik karena sebutan Pendatang dan Papua itu,” ujar Djaelani. (Tim/AlDP)