Interaksi Internal Antar Suku Permasalahan Lama di Supa

Interaksi Internal Antar Suku Permasalahan Lama di Supa

Para-para suku Sorontouw Tablasupa

Andawat-Kampung Tablasupa mendiami satu pesisir di sekitar tanjung tanah Merah Depapre,Kab Jayapura yang biasanya ditempuh dengan jalan darat dari Jayapura ke Depapre dan kemudian menggunakan motor laut. Sebagian kecil masyarakat setempat menggunakan sepeda motor melalui pantai Amay kemudian menelusuri bukit kecil melalui jalan setapak hingga sampai di jalan lintas pantai Amay.

Kampung Tablasupa(Supa) didiami oleh suku yang unik sebab meskipun mereka hidup di pesisir pantai dan terbilang tidak begitu jauh dari kota namun interaksi yang subtansi dengan pihak luar sangat terbatas juga sensitive. Aktifitas sehari-hari adalah melaut dengan tradisi sebagai masyarakat peramu yang masih tinggi.Mereka mencari ikan hanya untuk memenuhi kebutuhan makan hanya sebagian kecil yang memanfaat hasil laut sebagai sumber usaha keluarga. Ini pun masih sangat tergantung dengan pedagang dari luar yang memiliki kios-kios di sekitar Depapre untuk menampung hasil laut mereka.

Ada satu dua kios di Supa yang dimiliki oleh orang Supa sendiri, menjual kebutuhan sehari-hari selebihnya orang Supa mengandalkan pasar di Depapre yang berlangsung pada hari selasa,kamis dan sabtu.Ke pasar Depapre mereka datang untuk berbelanja,orang Supa tidak berjualan di pasar Depapre.Mereka membeli hasil kebun dari orang di sekitar mereka seperti dari Wambena,Yepase dan Dormena. Hari pasar inilah yang menentukan ramai tidaknya aktifitas masyarakat di sekitar Depapre termasuk Supa.Aktifitas di klasis GKI pun hanya berlangsung pada hari pasar.

Meskipun injil sudah masuk di wilayah Jayapura lebih dari satu abad namun anehnya di Supa sendiri baru memiliki pendeta jemaat 1 tahun silam.Sebelumnya ibadah selalu dipimpin oleh tokoh-tokoh senior di kampung Supa dalam satu gereja yakni Gereja Wibong.

Di kampung yang kecil ini, kampung Tablasupa, mereka hidup dalam 3 suku besar yang boleh dikatakan cenderung eksklusif,setiap suku memiliki para-para sendiri,memiliki tim ibadah sendiri(wik),memiliki batasan phisik dan persepsi yang mereka buat sangat jelas satu sama lain. Misalnya untuk ibadah PW(Persekutuan Wanita) di suku Demena meskipun hanya sekitar 8 rumah namun mereka tetap memilih melakukan ibadah per suku dan tidak mau digabungkan. Padahal untuk berjalan dari satu para-para ke para-para yang lain,misalnya dari para-para Sorontou ke paling ujung yakni para-para Demena tak lebih dari 3 menit atau hanya membutuhkan waktu kurang dari 15 menit untuk berkeliling kampung Supa.

Interaksi diantara masyarakat Supa terbilang baru sebab awalnya masing-masing suku besar yakni Demena,Apaseray dan Sorontou hidup di tempat yang terpisah-pisah baru sekitar 2 generasi mereka mulai hidup saling mendekat dan menyatu.Dulu masing-masing memiliki kampung tua yang letaknya lebih ke atas gunung,di lereng gunung  atau mendekat ke arah di Tanjung Tanah Merah.Suku Demena dan Suku Apaseray menguasai sebagian besar wilayah daratan hingga Amay dan sekitarnya sedangkan Suku Sorontou menguasai wilayah laut.

Dulu interaksi mereka jauh lebih tertutup sebab dari satu rumah ke rumah yang lain tak ada jembatan,sehingga harus menggunakan perahu.Mereka melakukan barter dari rumah ke rumah atau bahkan mendayung mengitari tanjung sampai ke Kayu Pulo membawa ikan dan sayur dan ditukar dengan gula,garam atau minyak goreng. Setiap rumah memiliki perahu yang ditaruh dipojok depan. Baru sekitar kurang dari satu generasi, dibangun jembatan penghubung diantara rumah-rumah mereka.Ada sekitar 40 an rumah yang saling terhubungan dengan jembatan.

Pada pagi dan malam hari orang lebih memilih tinggal di dalam rumah atau duduk di depan rumah mereka dan saling menyapa dengan tetangga terdekat. Anak-anak muda lebih memilih bertemu atau mencari signal(jaringan telepon) di sepanjang jembatan utama(dermaga) terutama pada malam hari. Kini orang Supa menyebut jembatan tempat mencari signal tersebut dengan nama “Jembatan Veronica” dinamakan oleh Thaha Alhamid yang berkali-kali mengunjungi Tablasupa.

Meski kampung kecil dengan penduduk yang sedikit namun konflik interest diantara mereka relative tinggi.Satu sama lain saling memandang sebagai orang lain(musuh).Bahkan mereka masih sangat percaya dengan kekuatan magic/dukun yang dapat menyebarkan bencana atau penyakit dari satu suku ke lain suku bila mereka sedang terlibat konflik.

Masyarakat cenderung sensitif, hati-hati,kecurigaan mudah muncul diantara mereka apalagi terhadap segala eksistensi yang datang dari luar. Sehingga membangun kesepahaman diantara masyarakat Tablasupa adalah pekerjaan utama yang berat sebelum mendampingi mereka menghadapi tantangan yang datang dari seberang/luar.

Pada situasi sekarang ini tentu saja orang Supa harus lebih memahami dan mempertimbangkan banyak hal sebab kini interaksi dan segala eksistensi dari luar dengan mudah sudah masuk ke kampung Supa.Hampir semua rumah memiliki televise dengan segala macam chanel dalam dan luar negeri. Selain itu anak-anak mereka pergi sekolah keluar dan mereka yang tinggal di kampung setiap saat dapat pergi ke Depapre dan Jayapura ataupun tempat lainnya.

Maka sudah saatnya orang Supa belajar memahami segala konsekwensi dan merumuskan hal-hal yang terbaik secara bersama-sama untuk menghadapi tantangan Supa ke depan,bersatu bersama 3 suku besar dan 16 keret yang ada.Jika masih ada pertentangan yang kuat diantara masing-masing suku maka tetap akan membuat orang Supa semakin rapuh dan gampang dipermainkan oleh kepentingan tertentu.Orang Supa harus saling membangun kepercayaan dan kesempatan untuk menjadi satu,besar dan menjadi rahmat untuk Supa yang satu.

Sebagaimana pesan bijak Gr(Guru Jemaat), Yulius Yorris diabadikan di tugu jembatan Supa,pesannya dinamakan Doa Victory :Melayani,Mengajar,Mendidik anak-anak di kampung Tablasupa adalah bagian dari tugas dan pengabdianku dengan harapan sungguh,bahwa suatu saat nanti umat dan kampung ini akan termasyur dan menjadi berkat bagi orang percaya”.(Andawat/AlDP).