Ibrahim Marian : Kuku Saya Ditindis Sama Kursi Saat Diperiksa

Wamena-Saksi Verbalisan lainnya yang dihadirkan di persidangan untuk para terdakwa kasus Wara Pisugi di pengadilan Negeri Wamena adalah Brigpol Alex Sianturi, berumur Umur 29 tahun dan  beragama Kristen protestan.

“Benar, saya memeriksa Ibrahim Marian,” Ujarnya(18/03/2015)

Saksi mengatakan bahwa saat diperiksa terdakwa dalam keadaan sehat.

Tidak ada tanda-tanda bahwa terdakwa sakit atau terluka, padahal saat itu terdakwa baru saja dibawa dari Kampung Wara distrik Pisugi dengan tangan dan leher terikat.

Terdakwa yang ditangkap subuh tanggal 11 Juli 2014 , diperiksa siang hari pada hari yang sama.

“Tidak ada pemeriksaan medis buat terdakwa?” tanya Anum Siregar,penasehat hukum terdakwa.

“Tidak,” Jawabnya.

“Jadi anda bertanya, ‘apakah terdakwa sehat’ itu sesuai dengan pertanyaan standar sebelum memulai pemeriksaan”? Tanya Siregar lagi

“Iya,” jawabnya.

Saksi menjelaskan bahwa saat memberikan keterangan, awalnya terdakwa berbelit-belit.

“Tidak ada ancaman kekerasan atau disetrum atau dipukul atau diancam,” Jelas Saksi.

Menurutnya tidak ada anggota polisi lainnya yang masuk ke ruangan termasuk  anggota brimob.

Saat Majelis hakim memberikan kesempatan kepada Terdakwa Ibrahim Marian untuk menanggapi keterangan saksi Brigpol Alex Sianturi, terdakwa langsung mengatakan bahwa dirinya disiksa.

“Saksi bilang ko harus mengaku kalau tidak mengaku saya akan bunuh,” kata Ibrahim Marian.

Ibrahim juga menambahkan bahwa ada anggota polisia lain yang masuk dan meninju terdakwa dengan menggunakan sarung tangan yang ujung-ujungnya terdapat besi, memukul terdakwa hingga gigi terdakwa patah.

Selain itu, penyidik menindis jari-jari tangan terdakwa dengan kursi  yang disusun dan anggota polisi saling bergantian naik diatas kursi tersebut.

Terdakwa katakan kepalanya ditoki/diketuk dengan menggunakan martelu/palu.

Namun ketika majelis hakim menanyakan kembali keterangan yang telah disampaikan oleh terdakwa, Saksi verbalisan yang merupakan penyidik pada Polres Jayawijaya itu mengatakan dirinya tidak pernah menyiksa Terdakwa.

Sidang kemudian ditunda untuk keesokan harinya. Pada keesokan harinya, nampak Penyidik Brigpol Alex Sianturi hadir kembali di persidangan, bukan untuk memberikan keterangan akan tetapi ikut barisan pengawal Polres Jayawijaya, dengan pakaian preman, dirinya menenteng senjata laras panjang di ruang tunggu persidangan. Nampak sidang dipenuhi oleh anggota Polres Jayawijaya.(Tim/AlDP).