Ibrahim Marian Disiksa oleh Oknum Anggota Polres Jayawijaya

20170512_105034Wamena – Ibrahim Marian adalah satu dari 5 terdakwa kasus bom rakitan dan pilpres tahun 2014 di Wara Pisugi Wamena. Saat persidangan di Pengadilan Negeri Wamena, Ibrahim divonis 1 tahun penjara. Jaksa Penuntut Umum(JPU)banding dan diputuskan menjadi 3 tahun penjara. Ketika Ibrahim dkk kasasi, Mahkamah Agung menguatkan putusan Pengadilan Tinggi Papua.

Saat di LP Wamena, surat perpanjangan penahanan dari MA belum tiba maka Ibrahim pun keluar dari LP Wamena.

“Saya tidak lari, loncat pagar atau pergi sembunyi-sembunyi tapi saya bilang ke kalapas waktu keluar,” katanya.

Kemudian waktu akhir tahun 2016, saat dilakukan razia, Ibrahim ditangkap kembali. Polisi yang menangkapnya menyiksa dan memakinya dengan kata-kata yang menyakitkan.

Bersama beberapa orang mereka diamankan di Polres Jayawijaya, yang lain dipulangkan sedangkan Ibrahim ditahan.

Menurut keteranganya ketika dalam ruangan serse, Ibrahim mulai mengalami penyiksaan dari malam  sampai jam 3 pagi.

Tangannya diborgol. Dia mengalami pukulan berulang kali pada sekitar betis hingga kakinya. Mulai dipukul dengan karet mati, hingga patah dan juga dengan pistol.

“Lutut sampai kaki saya bengkak, saya tidak bisa jalan,” jelasnya saat ditemui di LP Wamena pekan lalu.

“Ada sekitar  6 orang yang menyiksa saya, mereka baku ganti. Semuanya pakai tutup muka. Saya mengadu ke kapolres waktu kapolres datang lihat saya tapi kapolres tidak bikin apa-apa,” terangnya.

Lanjutnya,”saya bilang,kalau saya ini tahanan yang dibilang lari dari LP kenapa saya tidak dikembalikan ke LP?”.

Keluarga yang akan menemuinyapun dibatasi oleh pihak Polres. IIbrahim mendekam di sel Polres Jayawijaya hingga 1 bulan, baru diserahkan ke LP Wamena.“Mereka tunggu saya sembuh, bisa berdiri baru dikasih pindah” terangnya.

Kini Ibrahim menunggu pengurusan Pembebasan Bersyarat yang diusulkan dari LP Wamena.(Tim/AlDP).