Hubungan Papua dan Non Papua Harus Diperbaiki

Hubungan Papua dan Non Papua Harus Diperbaiki

Jayapura – Sebagaimana diskusi Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai di tempat lainnya di Papua, di Jayapura pun, kajian mengenai istilah dan makna pendatang atau non Papua menjadi hangat dibicarakan.

Para peserta berpendapat, aksi kekerasan yang terjadi belakangan ini semakin membuat hubungan antara Papua dan non Papua tidak nyaman. “Mari kita bangun dulu hubungan internal, hubungan antara orang Papua dan non Papua. Persoalannya kalau tidak, nanti antara orang Papua dan non Papua bisa baku bunuh,” ujar Khairul Anam dari ICMI Kota Jayapura, Sabtu lalu.

Ia mengajak semua pihak saling membangun komunikasi termasuk dengan aparat penegak hukum.

Mengenai maraknya aksi kriminalitas atau kejahatan yang dialamatkan pada etnis, Yamin dari STAIN Al Fatah mengatakan hal tersebut keliru. “Jangan etnis dijadikan alasan, etnis kita semua tidak bisa diubah tapi kejahatan dapat dilakukan oleh etnis apapun. Jangan mengeneralisir,” ujarnya.

Aksi kejahatan terus terjadi, apakah pelakunya orang Papua atau bukan juga tidak jelas. Ini menjadi tanggungjawab pihak kepolisian untuk mengusut pelakunya.

Yamin berpendapat, Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai yang digagas oleh Aliansi Demokrasi untuk Papua bersama Jaringan Damai Papua dan Tifa Foundation sangat penting dikampanyekan terus menerus.

“Yang penting niat baik ini sudah ada, dengan niat baik, akan baik, tapi kalau dijemput dengan prasangka maka akan membuat kesulitan,” tuturnya.

Ia berharap semua pihak bekerjasama untuk membangun perdamaian diantara komunitas meskipun memiliki latar belakang etnis yang berbeda. (Tim/AlDP)

 

  • entis

    Saya seorang peneliti masyarakat perdesaan yang tergabung dalam institusi Badan Litbang Pertanian. walaupun baru bertugas 4 tahun di Papua Barat namun sudah banyak kmpung yang dikunjungi bahkan melakukan pendampingan tenologi baik pada masyarakat lokal maupun pada masyarakat pendatang.
    Kesan saya memang terasa adanya polarisasi antara penduduk lokal dan pendatang. kesan ini hanya dirasakan di Papua, sedangkan di provinsi lain yang pernah saya tinggali tidak bdegitu terasa. Saya sangat prihatin terhadap pakta sosial ini, namun demikian saya tidak pesimis, justru saya tertantang untuk menyelam lebih dalam lagi guna memahami keinginan masyarakat lokal sekaligus berupaya menyatukannya kedua kutub tsb menjadi dua pilar yang saling mendukung dalam upaya peningkatan pembangunan.