Hidup Untuk Melayani
Pelajar SD di Yamor Besar, Kaimana, 2008, oleh Jafar Werfete

Hidup Untuk Melayani

Amon Injoroweri

Yapen – Terlahir dengan nama Amon Injoroweri pada 25 Oktober 1955 di kampung Waindu. Waktu itu Waindu salah satu kampung dari 35 kampung di wilayah distrik Yapen Timur ketika masih dalam Kabupaten Yapen Waropen.

Amon menyelesaikan SD di Waindu tahun 1972. Saat itu usia 17 tahun baru menyelesaikan SD bukanlah hal yang luar biasa karena kondisi social politik yang belum stabil.  Bahkan bersekolah saja adalah kesempatan langka yang didapatkan oleh anak-anak Papua pada waktu itu.

Bercita-cita menjadi guru, menjadikannya melanjutkan SMP ke kota Serui. Perjuangan orang tua Amon sangat panjang untuk membiayainya sekolah, kadang 4-6 bulan baru mereka datang ke kota Serui demi mengantar bahan makanan, sayangnya belum mampu mengantar Amon menamatkan SMP. Tiada biaya lagi, pendidikan Amon pun kandas di kelas 3 SMP Harapan (sekarang SMP Yapis Serui).

Kesulitan Amon dan orang tuanya sangat kompleks sebab bukan saja soal biaya sekolah tapi juga hubungan transportasi yang sulit karena harus mendayung perahu dari kampung kelahirannya (Waindu) hingga ke Serui yang memakan waktu 2-3 hari tergantung cuaca.

Putus pendidikan mengharuskannya merantau hingga ke Sorong dan menjadi buruh pelabuhan hingga tahun 1981. Jika tidak ada kapal yang masuk ke pelabuhan, waktu lengang  dia digunakan untuk mencari kayu, membuat pondok baginya serta keluarga dari kampung yang juga ada merantau ke Sorong.

Selain itu Amon juga membuka kebun guna memenuhi kebutuhan harian. Baginya bekerja untuk melayani baik bagi diri sendiri maupun orang lain adalah suatu pengabdian dan kebanggaan.

Nasib baik datang menghampirinya, dia diikutsertakan pada Pendidikan Satuan Pengamanan Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel). Dari 186 pendaftar Amon Injoroweri dinyatakan lulus bersama 16 orang lainnya dari Sorong untuk dilatih oleh Polda di SPN di Jayapura.

Karena kepiawaiannya dia ditunjuk menjadi Wakil Komandan Kompi (Wadanki) yang terdiri dari 3 pleton untuk dilatih menjadi keamanan Perumtel selama 4 bulan. Pengalaman dalam Latihan Gabungan (Latgab) di tahun 1981 untuk pengamanan pelabuhan Sorong yang dilatih oleh Angkatan Laut  menjadi bekal yang membantu dalam pendidikan Satpam tersebut.

Selama 13 tahun mengabdi menjadi Satpam di Telkom Sorong banyak pengalaman yang menarik baginya dalam rangka meningkatan kapasitasnya. Di tahun 1982 dalam rangka pengamanan Pemilu Amon juga ikut dalam Latgab bersama kesatuan keamanan lainnya. Pengalaman lainnya adalah dilatih dalam Pelatihan pemadaman kebakaran security tahun 1988.

Diawal tahun 90-an Perumtel mulai mengalami kemunduran  dan mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi pegawainya. Dia sempat ditawarkan untuk menjadi Satpam di Bank Danamon di Sorong. Tetapi pilihan pulang kampung adalah langkah yang diambil olehnya mengingat Amon prihatin dengan keadaan kampung yang menurutnya tidak ada kemajuan.

Pandangan ini didapatnya ketika dia ditunjuk menjadi koordinator pengumpulan dana cabang Sorong untuk pembangunan gereja di kampungnya. Berbekal pesangon dari Perumtel kemudian tahun 1995 dia memutuskan pulang ke kampung.

Setahun kepulangannya, tahun 1996 Tsunami menghantam Biak, bersama kampung sepanjang pesisir Yapen bagian Utara, kampung Waindu tempatnya tinggal terkena dampak. Rumah dan berbagai barang yang dibeli hasil pesangon habis terbawa gelombang Tsunami, kecuali motor laut 15 PK yang tersisa.

Bersama dengan pemuda di kampung mengkoordinir bantuan yang diberikan oleh Pemda walau tidak seberapa. Kemudian bersama warga mulai melakukan pembenahan areal guna pemukiman baru. Aktif di Gereja dan kepemudaan serta  berbagai keahlian yang dimilikinya, termasuk pembangunan areal pemukiman warga memunculkannya sebagai sosok pemuda yang bisa diandalkan.

Ketika menjadi ketua I LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa), sekarang Bamuskam, dia memimpin warga untuk melakukan penataan kampung. Jiwa dan semangat pelayanan tiada henti yang ditampilkan menjadikannya mewakili kampung dalam lomba desa se Indonesia di Jakarta. Kampung Waindu menjadi kampung yang menang pada lomba desa se Irian Jaya.

Sepuluh tahun setelah pulang kampung, dia dipercayakan warga menjadi kepala kampung Waindu di tahun 2005. Keberanian melakukan terobosan dan pembaharuan demi memajukan kampung dia buktikan ketika memimpin kampung Waindu.

Berbagai program pembangunan yang masuk ke kampung dikoordinir secara baik sehingga berbagai masalah bisa diatasi secara baik.  mulai dari program PPD (Sekarang PNPM Mandiri Respek) untuk pembangunan jamban, PPIP untuk pembangunan jalan kampung, PNPM Pertanian hingga program dari Yayasan KIPRa Papua ditahun 2011.

Sebenarnya masa jabatannya sudah selesai ditahun 2010 namun karena kondisi politik di kabupaten yang tidak stabil sehingga pada 2 November 2011 dia baru bisa meletakkan jabatannya. “Apa yang saya lakukan demi masyarakat banyak” kata Amon saat serah terima jabatan ke Sekretaris kampung. Amon berharap pejabat kampung  bisa melanjutkan pekerjaan pelayanan yang sudah dia lakukan bersama-sama dengan warga.

“Keberhasilan ini adalah kesuksesan kita semua warga di kampung Waindu,” katanya hingga beberapa warga menitikan air mata. Kini panitia penjaringan pemilihan kepala kampung sudah dibentuk dan dia diharapkan maju kembali memimpin Waindu untuk 5 tahun ke depan untuk membuat perubahan wajah kampung yang lebih baik.

Perjuangan dan pengabdian Amon tiada henti sekalipun sudah tidak lagi menjabat kepala kampung. Saat ini dia dipercayakan menjadi sekretaris jemaat dan juga memberikan nasihat-nasihat atas berbagai masalah di kampung. Bagi Amon Injoroweri tidak pernah berhenti untuk mengabdi karena hidup adalah pelayanan.(04/AIDP)