Gustaf Kawer : Sistem Noken Tidak Demokratis Di Era Demokrasi

Gustaf Kawer : Sistem Noken Tidak Demokratis Di Era Demokrasi

Jayapura-Semestinya Noken yang menjadi nilai budaya tidak dipakai dalam pelaksaan Pemilu di Papua. Mengingat, noken dalam kultur budaya orang Papua. Dipakai, sesuai dengan kebutuhan budaya sehari-hari orang Papua. Misalnya, di wilayah Pengunungan, noken dipakai untuk mengisi hasil kebun, sedangkan, diwilayah lain di Papua noken sebagai nilai Seni dalam kehidupan,” kata Pratiksi Hukum Gustaf Kawer.SH, Rabu (19/03/2014) di Pengadilan Negeri Abepura.

Menurutnya keputusan MK, ketika memutuskan perkara dalam kasus pilkada di Papua yang didalamnya terkait penggunaan noken bukanlah yurisprudensi sebab hanya pada kasus tertentu.

” Itu, MK menutuskan noken sebagai konteks kearifan kokal, bukan keputusan yurisprudensi sehingga jangan ditafsirkan  bahwa  keputusan MK itu sah untuk diterapkan di Papua,”

Jelas Kawer, “Situasional pada waktu perkara yang disidangkan di MK itu, membuat MK, memutuskan demikian  namun, MK sendiri tidak mampu menterjemahkan putusan itu, sehingga menjadi bola liar yang bukan menyelesaikan masalah, namun malah membuat masalah di Papua”.

“Kita tahu bersama, Filosofi dari sebuah proses Pemilu, yakni, langsung , umum, bebas dan rahasia. Ketika, Sistim noken ini dipakai, maka makna dari Pemilu itu, tidak lagi asas langsung, umum, bebas dan rahasia”.

 “Sehingga, sistim noken ini sangat tidak demokratis di era negara yang menganut demokrasi,”Ungkapnya.(RM/AlDP)