Berita

Gedung Rusak, Proses Belajar SD Fafanlap Terganggu

Raja Ampat – Gedung Sekolah Dasar Negeri 15 Fafanlap, Distrik Misool Selatan, Raja Ampat, Papua Barat, rusak berat. Siswa harus belajar dibawah atap bocor dan dinding bolong.

“Rusak dari dulu, kita sudah sampaikan kepada dinas terkait tapi belum ada jawaban,” kata Abdul Mali Bugis, Kepala Sekolah SD Fafanlap, Misool, saat ditemui pekan lalu.

Menurutnya, aktivitas belajar kerap digabung antara kelas atas dan kelas bawah. “Kalau lihat, itu dari ujung, dapat tembus sampai ujung, tidak ada pembatas, kalau hujan, ya terpaksa kita satukan kelasnya. Yang ditakutkan kalau-kalau roboh, bisa berbahaya bagi murid,” ujarnya.

Selain atap rusak, lantai kelas juga hancur. “Kalau angin atau hujan besar, biasa was-was, kerusakan ini terjadi sejak dua tahun lalu, waktu saya jadi kepala sekolah, sudah memang rusak,” ucapnya. Ia menambahkan, kebutuhan perlengkapan alat tulis dan kantor terbatas. “Jadi harus hemat-hemat. Kita punya perpustakaan juga tidak ada, untuk belajar, tidak ada buku bantuan yang bisa jadi pegangan siswa.”

Abdul menjelaskan, bangunan rusak tak bisa dijadikan patokan sekolah dapat berhasil meluluskan siswa. Gedung merupakan sarana mutlak yang harus dimiliki jika ingin proses belajar mengajar berlangsung baik. “Tapi kami bisa, ada kemauan yang begitu besar dari murid untuk lulus, mereka belajar seadanya dan berhasil,” katanya.

Ia berharap pemerintah merenovasi bangunan rusak dan menambah tenaga guru di SD Fafanlap. “Bangunan bagus, tapi kalau guru kurang, sama saja, sebaiknya memang bangunan bagus, dan guru lengkap.”

Jumlah seluruh guru SD di Kabupaten Raja Ampat hingga tahun kemarin sebanyak 352 orang.  Jumlah tersebut tak sebanding dengan siswa yang mencapai ribuan. Idealnya, satu SD dilayani oleh 8 sampai 10 guru. Dari perkiraan pemerintah, Kabupaten Raja Ampat membutuhkan sekitar 288 hingga 448 guru baru. “Itu benar, satu guru mengajar hampir semua murid, itu tidak bisa, harus setiap kelas punya guru sendiri-sendiri,” kata Abdul Mali.

Selain Fafanlap, kasus kurang guru juga terjadi di Wejim, dimana seorang guru menangani hampir 200 murid, kelas 1 dan 2. Di Atkari, bahkan hanya ada satu guru mengajar dari kelas 1 sampai 6. “Ini kan memprihatinkan, mudah-mudahan tahun ini bisa lebih baik,” pungkasnya. (02/ALDP)