FBLB : Masih Menjadi Sesuatu Banget?

FBLB : Masih Menjadi Sesuatu Banget?

Festival Lembah Baliem

Wamena-Bertahun-tahun lamanya Wamena menyelenggarakan Festival Budaya Lembah Baliem(FBLB) yang lebih sering disebut sebagai festival perang-perangan dan menjadi salah satu ajang budaya khas di Wamena. Memang hampir keseluruhan tampilan budaya atau atraksinya menggambarkan perang-perangan.

Tahun ini festival lembah Baliem diselenggarakan tanggal 8-11 Agustus 2012. Tak banyak turis asing yang datang sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, sebagian besar adalah jurnalis atau setidaknya berbagai komunitas fotografer. Penerbangan ke Wamena menjelang dan saat pelaksanaan festival sulit didapat.

Di kalangan penduduk Wamena sendiri festival lembah Baliem tidak begitu digemari seperti dulu.”Sebab atraksinya begitu-begitu saja,” kata mereka. Suasana di Kota Wamena berjalan seperti biasa, tak banyak terdengar teriakan khas Wamena di tengah Kota yang menandakan orang sibuk beraktifitas untuk mendukung festival.

Peserta festival berasal dari berbagai distrik yang mendapat giliran untuk menampilkan  atraksi mereka. Kini tari-tarian perang menjadi lebih beragam. Bahkan ada yang menampilkan tari-tarian mengenai masuknya Papua ke dalam NKRI dan mengusir penjajah.

Festival dilakukan di Wosi distrik Kurulu, dulunya dilakukan di Mulyawa jalan menuju Kimbim. Meskipun sudah berkali-kali diselenggarakan di Wosi namun jalan menuju Wosi masih banyak yang rusak bahkan ada yang rusak parah.

Sepertinya sebagian besar orang luar tertarik pada dandanan dan eksotisnya para penari baik penari laki-laki, perempuan termasuk anak-anak.

Penari perempuan tidak menutupi bagian atas tubuh mereka, baik yang tua maupun masih anak-anak. Tubuh mereka dipenuhi dengan ukiran, manik-manik dan ornamen adat. Bahkan ada yang tampil nyentrik dengan berkacamata gelap. Para prianya juga demikian, panah dan koteka menjadi ornamen yang paling khas.

Dandanan seperti itu menjadi daya tarik utama. Para photografer setidaknya turis yang membawa kamera lebih banyak berkerumun diantara para penari yang memang tempat mereka tidak diberi batasan tertentu sehingga dapat langsung bercampur baur.

Selain memotret mereka juga menggunakan kesempatan untuk difoto bersama para penari . Ada penari yang langsung dengan sukarela bersedia di foto tapi ada juga yang enggan difoto berulang-ulang tanpa diberi imbalan tertentu, seperti membeli kalung manik-manik yang mereka bawa ataupun prianya mengatakan ‘cigaret’ berulang kali, artinya mereka minta rokok.

Anehnya yang justru lebih ‘menarik’ adalah ekspresi para pemotret yang tak henti mencoba mengambil gambar dari berbagai gaya dan sudut. Mereka lebih banyak mengambil gambar dikerumunan penari bukan saat tim-tim penari sedang menampilkan atraksi. Memandang para penari menjadi sesuatu yang istimewa sebab tidak ditemui dalam realita hidup mereka.

Makna dari festival perang-perangan sendiri seperti mulai bergeser sebab kini FBLB lebih banyak menampilkan tarian perang-perangan yang mewakili distrik(kecamatan) maka cenderung mengalami modifikasi mengikuti perkembangan kekiniaan kadang juga  mewakili aspirasi pemerintah. Ciri khas dari masing-masing konfederasi perang warisan masa lalu menjadi sulit untuk muncul.

Sangat dikhawatirkan jika kemudian FBLB lebih banyak menyajikan sesuatu yang berbeda dari aslinya demi tuntutan ‘modernisasi’ atau untuk membuktikan telah menjadi NKRI sejati.

Biarkan FBLB sebagai personafikasi budaya dan bebas dari politik budaya. FBLB  mesti dikembalikan pada ruh adat yang sebenarnya  untuk menjadi sesuatu yang benar-benar unik sebagai festival budaya. Sehingga semua orang mendapatkan gambaran yang benar tentang kekayaan dan keunikan budaya orang Baliem termasuk orang Baliem sendiri.(Tim/AlDP).