Evolusi Dialog Tergantung Pada Konteks Politik

20161115_113051Jayapura-‘Sangat penting membedakan antara dialog dan negosiasi. Dalam dialog tidak mengenai pertukaran konsesi tapi dialog ada proses trust building,” Ujar Elvira Rumkabu dosen HI Uncen pada FGD yang dilakukan oleh Uncen,Imparsial dan AlDP pekan lalu di Jayapura.

“Persoalannya adalah siapa yang menjadi fasilitator mau meyakinkan orang-orang. Menyakinkan konsepnya soal dialog yang diinginkan termasuk menyakinkan TNI”

“Kenapa dialog sulit terjadi, jadi apa yang hilang atauapa yang sulit diwujudkan.” tanyanya.

Menurutnya, pemerintah tidak melihat adanya kebutuhan untuk negosiasi Sehingga  harus menciptakan sense of urgency, harus ada ‘grand startegic’ .

Lanjutnya, “harus ada metamorfosa termasuk penambahan aktor-aktor dengan melihat perubahan aktor-aktor ditingkat nasional”.

Mengenai posisi militer harus juga dipertimbangkan. Katanya, ‘,saat negosiasi RI dengan  GAM di Aceh, militer bisa‘dikontrol’ sehingga negosiasi bisa berjalan. Ini  salah satu konteks yang hilang yang tidak bisa diselesaikan,”tegasnya.

Sedangkan Otto Syamsudin Ishak, anggota Komnas HAM RI yang turut hadir mengatakan bahwa evolusi dialog tergantung pada konteks politik.

”Peluang-peluang dialog ada tetapi kenapa macet? karena tidak ada iklim yang menekan”.

Menurutnya,tekanan pada setiap periode itu beda. Tidak bisa bilang stop penembakan saat menuju dialog karena dalam banyak sejarah justru kontak senjata supaya ada perundingan gencatan senjata dicapai kalau kesepakatan dicapai.

Tulisantentang sejarah Papua yang Papua sentris juga penting, merumuskan  isu yang bisa dipakai duduk bersama. Meskipun untuk mencari sesuatu agar Papua tidak tersinggung itu juga tidak mudah.

Lanjutnya,’ kenapa (dialog) tidak bermetamorfose karena tidak melahirkan kesepahaman, karena tekanan tidak ada, para pihak tidak jelas”.

“Pihak yang berunding harus organisasi politik yang bulat. Harus jelas hanya ada 2(dua) pihak,”tegasnya.