Berita

Duta Besar Swiss Ingin Lebih Memahami Situasi di Papua

Kunjungan Dubes Swiss di Kabupaten Keerom

Keerom-Masyarakat Kampung Kwimi Distrik Arso Kabupaten Keerom tidak menyangka akan kedatangan tamu penting. Pada Selasa 15 Mei 2012, Duta besar Swiss untuk Indonesia Heinz Walker Nederkoorn , bersama istri Septa Walker Nederkoorn didampingi oleh Pegawai Dinas Perbatasan Provinsi Papua dan dikawal oleh mobil dan aparat Kepolisian dari Polda Papua menyempatkan diri berkunjung ke Kampung Kwimi untuk melihat secara langsung kehidupan para repatrian asal PNG.

Piter Wellip yang berbicara secara langsung kepada Duta Besar mewakili warga repatrian menyampaikan kekecewaannya.  “Kami pulang ini karena sudah ada agreement antara Pemerintah Indonesia dan PNG bahwa pengungsi yang tinggal dan mau kembali ke Papua bisa kembali, Papua sudah aman. Pemerintah Indonesia jamin kami kira-kira tiga tahun baru lepas kami,” ungkapnya. Selain berjanji untuk menjamin kehidupan repatrian ini selama tiga tahun, pemerintah juga berjanji untuk membangun perumahan yang layak bagi mereka.

Kini hampir tiga tahun lamanya menjadi warga Negara Indonesia, janji manis yang disampaikan pemerintah jauh dari kenyataan. “Perjanjian pemerintah belum digenapi sampai sekarang ini, tahun 2011 jaminan makanan sudah stop” jelasnya. Dia pun mengaku tidak mengetahui alasan pemerintah menghentikan bantuan. Perumahan yang dijanjikan pun belum diselesaikan. Rumah yang ditempati saat ini merupakan rumah miliki masyarakat Kwimi, yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka.

Warga repatrian ini masih merasa cemas jika suatu waktu pemilik rumah meminta mereka untuk keluar dari rumah, karena dulu perjanjiannya hanya delapan bulan warga repatrian ini tinggal dengan rakyat setempat. Mereka pun menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kwimi yang menerima mereka dengan baik sebab sudah lebih dari delapan bulan reptarian menumpang di rumah warga karena janji-janji pemerintah yang tidak kunjung terpenuhi.

Tidak hanya masalah makanan dan perumahan, warga repatrian ini juga tidak mendapat jaminan kesehatan yang baik dan mereka juga mengaku kesulitan mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan utama mereka saat ini adalah menjadi buruh kelapa sawit di Perkebunan PT. Tandan Sawita Papua Arso Timur. Anak-anak  berhenti sekolah dan memilih membantu para orang tua mereka di perkebunan ini.  Karena tidak tahan dengan situasi ini, tiga keluarga sudah kembali ke PNG, sementara delapan keluarga lainnya masih bertahan.

Di depan Duta Besar ini Piter Wellip pun membuat pernyataan yang diakuinya sudah menjadi keputusan bersama semua warga repatrian “if there is no suplly, there is no something, government no giving for us, then we make the decision, go back to Papua Nugini” tegasnya.

Duta besar yang serius mendengar pun memberikan tanggapannya. “ I think there is a lot of unfinished bussines.  We have representative of the government here , also take a lot of the current situation.  it’s up to the authority I think.”.

Sebelum berkunjung ke Kampung Kwimi, Dubes melakukan dialog bersama tokoh agama, adat, dan tokoh masyarakat Kabupaten Keerom di Aula Paroki Santu Willibrodus Arso kota selama satu jam. Sekembali dari Arso,Dubes dan rombongan kembali ke Jayapura dan berkunjungan ke AlDP di Padang Bulan.

Dubes yang baru pertama kali berkunjung ke Papua tersebut mengatakan sebelumnya  sudah memiliki informasi yang cukup tentang situasi Papua, tetapi dialog langsung dengan masyarakat termasuk kunjungan ke kampung repatrian di Kwimi dan kunjungan ke AlDP sangat penting untuknya sehingga bisa lebih memahami situasi di Papua dengan lebih komperhensif.(01/AlDP)