Doa dari Honai: Mengenang Kepergian Dr. Muridan Satrio Widjojo

Doa dari Honai: Mengenang Kepergian Dr. Muridan Satrio Widjojo

Cuaca sangat cerah di kota Wamena hari ini Sabtu 15 Maret 2014. Hari ini adalah hari kampanye akbar seluruh partai Politik di Kota Wamena dalam rangka menyambut pemilihan anggota legislatif pada 09 April 2014 mendatang. Kota Wamena diwarnai dengan atribut partai seperti bendera, baliho, kaos dan lain sebagainya. Namun di sudut yang lain kota Wamena tepatnya di Honai Dewan Adat Lapago di Kama, sekelompok masyarakat juga sedang berduka. Hari ini mereka berkumpul untuk mengenang kepergian Dr. Muridan SatrioWidjojo yang meninggal di Jakarta pada 07 Maret yang lalu karena sakit kanker yang sudah lama dia.

Kegiatan ini diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pastor John Jonga, Pr yang juga merupakan sahabat baik Dr. Muridan. Dalam Kotbahnya Pastor John menyebut Dr. Muridan sebagai garam dan terang dunia seperti yang tertulis dalam Alkitab, karena beliau telah memberi rasa, menghidupkan, dan menunjukkan jalan untuk perdamaian di Papua. Pastor juga menyebutnya sebagai tokoh yang pluralis, yang tidak membeda-bedakan suku, ras dan agama dalam memperjuangkan harkat dan martabat manusia. Bahkan dalam keadaan sakit yang sudah sangat parah, beliau masih berpikir tentang perdamaian di Papua.

Setelah ibadah, satu persatu orang-orang yang pernah dekat dengan Dr. Muridan mendapat kesempatan untuk berkisah tentang pengalaman hidup mereka bersama Muridan. Yang pertama adalah Bapak Damasus Wetapo. Pak Damasus Wetapo adalah orang yang membantu Dr. Muridan selama tiga tahun saat melakukan penelitian tentang Budaya orang Wamena dan selama bekerja di Kantor LIPI Wamena. Selama itu, terjadi perang suku di Wamena dan dia mengingat bagaimana Dr. Muridan mendorong para tokoh untuk mendamaikan suku-suku yang sedang berkonflik. Dr. Muridan tidak tampil di depan, tetapi beliau mendorong para tokoh orang Wamena sendiri yang melakukannya dengan dukungan penuh dari Muridan.  Hubungan baik itu berkembang hingga seperti keluarga. Saat Muridan menyelesaikan S3 di Belanda, dia langsung datang ke Papua untuk mengucapkan terima kasih. “Ucapan terima kasihnya hanya selembar foto. Tadi saya berusaha menncarinya tetapi sudah tidak ada” kata Pak Damasus dengan sedih. Sebagai wujud rasa terima kasinya, Muridan kemudian menyekolahkan anak pertama Pak Damasus Wetapo dari SMP hingga kini dia sedang Studi Antropologi di Universitas Admajaya Jakarta. “Muridan itu Bapak dari anak saya Yeri” ungkapnya.

Mama Sarce Hesegem mewakili kelompok perempuan juga ikut berbicara tentang Dr. Muridan. Mama berbicara mengenai kesannya terhadap Dr. Muridan dalam bahasa Wamena. Menurutnya Muridan adalah sosok yang sederhana. Dia bisa tinggal di mana saja dan makan apa saja yang disediakan oleh mama. Dia juga sangat berusaha memahami persoalan-persoalan masyarakat dengan masuk dari honai yang satu ke honai yang lain.

Bapak Julianus Hisage yang merupakan Ketua Dewan Adat  Lapago dan menjadi tuan rumah acara mengenang Muridan ini membacakan tulisan hasil refleksinya untuk mengenang kepergian Muridan. Dia menyebut Dr. Muridan sebagai anak adat asal suku bangsa Jawa yang berani dan berhasil membuka kunci peti emas yang berisi akar persoalan Papua di mata dunia, yang ditutup dengan sangat rapat oleh Indonesia dan negara-negara lain di dunia yang mengambil keuntungan dari kekayaan Tanah Papua. Bapak Julianus membaca hasil refleksinya sambil menangis. “Papua sungguh-sungguh kehilangan satu Muridan. Masih adakah seribu Muridan lain yang akan datang membawa damai di Honai dan mengakui keberadaan kami di honai?” ucapnya.

Tangisan semua orang yang hadir dalam honai semakin menjadi ketika Bapak Theo Hesegem, anggota Jaringan Damai Papua (JDP) di Wamena bercerita tentang Dr. Muridan. Di awal kesempatannya memberi kesan tentang Dr. Muridan, Bapak Theo hanya menangis yang membuat pecah tangisan semua orang yang hadir dalam honai. Ternyata selain dekat dengan Dr. Muridan, Bapak teho juga cukup dekat dengan keluarganya yaitu istri dan kedua anaknya. Bapak Theo juga cukup tahu bagaimana perjuangan Dr. Muridan melawan penyakitnya sambil berjuang untuk dialog Jakarta Papua. “ Dia mengajarkan anak-anaknya untuk menghargai orang Papua. Kalau mereka ke Jakarta, kamu harus terima mereka, tidak menganggap mereka hitam dan kotor. Tidak membeda-membedakan ” ucap Pak Theo mengenang bagaimana Muridan menasihati anak-anaknya. Dia mengaku masih sulit mmembayangkan bagaimana rapat JDP ke depan tanpa kehadrian Dr. Muridan. Dia juga mengharapakan akan ada pengganti Dr. Muridan yang memiliki sifat dan watak sama dengan seorang Muridan. “Jika Tuhan memberi kesempatan saya untuk ke Jakarta, saya harus melihat kuburan Muridan. Saya juga akan bertemu dengan anak-anaknya dan memeluk mereka” pak Theo mengakhiri kesempatannya berbicara masih dengan isak tangis.

Setelah pembicaraan selesai, diadakan penandatanganan pengukuhan Dr. Muridan sebagai  Kepala suku pejuang damai. Adapun surat pengukuhan ini ditandatangani oleh Ketua Dewan Adat Yali Ismail Omoldomon, Ketua Dewan Adat Lani Piter Wanimbo, Ketua Dewan Adat Hubula Yulianus Hisage,  Tokoh agama Pastor John Jonga, Pr, Perwakilan Jaringan Damai Papua Theo Hesegem, Ketua Tim Doa Dewan Adat Enos Mabel, Kepala Suku Rence Assi, Kepala Kepolisian Adat Wilayah Baliem Amos Wetipo dan Perwakilan Perempuan Mama Sarce Hesegem.

Acara ditutup dengan foto bersama dibawa spanduk bergambar Almarhum Dr. Muridan dan makan hasil bakar batu bersama. Kurang lebih 200 orang hadir dalam pertemuan ini yakni dari kelompok dewan adat, Kepolisian Adat, Gereja, LSM dan masyarakat yang mengenal Dr. Muridan secara dekat.

Selamat Jalan Pak Muridan, beristirahatlah dalam damai!