Berita

Dilematis Menjadi Pendatang di Papua

Adi Muslimin , salah satu peserta forum Kajian Papua Tanah Damai-Merauke

Merauke-Ada pertanyaan dari sejumlah peserta saat dilakukan Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai(IPTD) bagi non Papua di Merauke.(29/08/2012).

“Bagaimana memposisikan diri sebagai pendatang?.  Saya tidak tahu, disebut apa saya ini, sudah 3 generasi ada di Papua,” Ujar Adi Muslimin.

“ Kini pendatang yang sudah turun temurun di Papua berada dalam situasi yang membingungkan”. Menurutnya kategori pendatang seperti dirinya jauh lebih sulit di Papua .

“Dari pemerintah Jakarta dia dianggap lebih membela kepentingan orang Papua sedangkan di Papua sendiri, mereka tetap dianggap sebagai pendatang”.

Muslimin mengaku, dirinya generasi ketiga karena kakek buyutnya  yang datang sekitar tahun 1800 di Merauke.

“Sebaliknya ketika saya datang ke tanah leluhur saya, mereka akan mengatakan saya orang Irian tapi di Irian kami tetap dianggap pendatang”.

Menurutnya istilah pendatang mulai muncul tahun 2000. Dulu, orang Marind menyebut pendatang dengan cara yang lebih khas dan familiar yakni Pua anim, bukan seperti sebutan yang banyak terdengar sekarang ini.

Menanggapi pendapatnya, Dr.Muridan Satrio Widjojo mengatakan sejak tahun 2000 terutama masuknya Otsus di Papua, telah membuat perubahan di kalangan orang papua dan tentu saja berimplikasi dalam membangun hubungan mereka dengan non Papua.

Olehnya itu, orang non Papua yang menetap di Papua perlu juga merumuskan artikulasi baru dalam membangun hubungan dengan orang asli Papua sehingga hubungan yang dibangun saling memperkuat. “Masing-masing pihak harus menata relasi kembali sebagai satu masyarakat sipil”.

Dr.Muridan juga mengajak non Papua untuk mengambil inisiatif lebih dalam melihat dan menyelesaikan permasalahan yang ada. Dengan demikian peran non Papua  khususnya paguyuban semakin nyata di tanah Papua.