Dibangun Megah, Bandara Bintuni Masih Kosong

Dibangun Megah, Bandara Bintuni Masih Kosong

Bandara Teluk Bintuni

Bintuni – Ruang bandara Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, yang dibangun megah ternyata belum seluruhnya terpakai. Bangunan miliaran rupiah itu selesai didirikan tahun 2012. “Seharusnya landasan pacu yang diperpanjang,” kata Monggur Panjaitan, asisten Deputi II Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), kemarin.

Ia mengatakan, gedung mewah tersebut tidak sebanding dengan jumlah pesawat yang tiba tiap hari. “Yang landing disini juga kan pesawat berbadan kecil, ini terlalu bagus, tapi tidak apalah,” ujarnya.

Bandara Bintuni memiliki landasan pacu beberapa ratus meter. Didarati pesawat berbadan kecil dengan belasan penumpang. Bandara Bintuni disebut lebih menarik daripada milik Ibukota Papua Barat, Manokwari.

Pada bulan Juni 2011, Pesawat Susi Air jenis caravan C 208 B pernah mengalami pecah ban saat mendarat di Bandara Bintuni.

Kecelakaan terjadi saat pesawat dari Manokawari akan mendarat sekitar pukul 15.30 wit. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa naas tersebut. Sembilan penumpang beserta dua kru selamat.

Kecelakaan itu bukan satu-satunya yang dialami Susi Air. Pada 8 Juni 2011, pesawat sama tergelincir di sebelah barat landasan pacu Bandara Bintuni. Ban sebelah kiri terperosok ke parit sedalam satu meter.

Luas wilayah Kabupaten Teluk Bintuni sekitar 18.637 Km² atau meliputi 13,02 % wilayah Provinsi Papua Barat.

Berdasarkan hasil pencacahan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Teluk Bintuni sementara adalah 52.403, terdiri atas 29.022 laki-laki dan 23.381 perempuan. Penyebaran penduduk bertumpu di Distrik Bintuni sebesar 35,40 persen, Distrik Sumuri 12,5 persen, dan Distrik Manimeri 10,14 persen. (02/ALDP)