Dialog Penyelesaian Konflik yang Paling Humanis

Dialog Penyelesaian Konflik yang Paling Humanis

Suasana Diskusi Kelompok Kajian Indikator Papua Tanah Damai Di Manokwari

Manokwari-Pendeta Jodi dari Ikatan Keluarga Toraja(IKT) yang hadir pada Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai di Manokwari mengatakan bahwa dialog yang memiliki arti dan makna sesungguhnya,perlu untuk dilakukan.(13/10/2012).

Patriks seorang jurnalis yang juga berasal dari IKT menambahkan,” Dialog itu adalah sesuatu yang manusiawi, pandangan orang Toraja menyebutnya  ‘komboingan kalua’ itu mekanisme untuk menyelesaikan konflik yang paling humanis” .

”Ini adalah gagasan yang selaras dengan budaya kami orang Toraja,” katanya.

Hal senada disampaikan oleh yakni Benyamin Marbun dari Ikatan Kerukunan Keluarga Batak, “ Saya kira dialog merupakan satu upaya yang bisa membuat proses damai, menurut saya itu cara yang paling baik”.

Namun lanjut Marbun, yang perlu dipikirkan adalah tahap implementasinya. Apalagi sejak Papua masuk NKRI, sudah menimbulka  situasi yang dilematis selain itu  Papua hanya menjadi prioritas kesekian dari propinsi yang ada di seluruh Indonesia.

“Bagaimana orang Papua sejahtera sejak masuk NKRI tahun 1963 sampai sekarang ini, tidak ada kebijakan yang win-win solution. Pusat masih mendikte Papua sehingga pembangunan yang dilaksanakan tidak jalan dan bersinergis dengan hasil yang didapat oleh pemerintah”.

“Apakah dialog telah menjadi kebutuhan kita bersama?. Sebab di kalangan kita orang pendatang masih terkotak-kotak mengenai dialog mengingat perjalanan awal dialog hanya untuk orang Papua. Sehingga penting untuk melakukan kampanye secara menyeluruh,” demikian pandangan La Jumad dari Keluarga Sulawesi Tenggara.

Namun Sali Pelu warga dari Maluku mengatakan agak pesimis dengan dialog karena di Papua begitu banyak etnis. “Selain itu kalau mau dialog harus diawali dengan bukti ,” tegasnya.

Menanggapi banyaknya pandangan mengenai dialog, Dr.Muridan Satrio Widjojo salah seorang coordinator Jaringan Damai Papua(JDP) mengatakan, “pekerjaan ini tidak linear karena ada pekerjaan yang saling tabrak jika tidak dipahami baik. Jangan sampai kita salah mengerti tentang dialog”.

Jelasnya, “Konsep dialog dalam buku itu adalah konsep dialog yang normative, nantinya untuk Papua dan Jakarta tergantung kepada kesepakatan”.

Katanya lagi,”Dialog yang dibutuhkan adalah dialog politik cukup panjang dan dilakukan secara bertahap”.(Tim/AlDP).