Dialog Jakarta – Papua, ‘Win-Win Solution’
Anak-anak Kampung Kibay, Distrik Arso Timur, Keerom

Dialog Jakarta – Papua, ‘Win-Win Solution’

Diskusi dan Peluncuran Buku DR Neles Tebay,Pr

Jayapura – Dialog Jakarta Papua merupakan salah satu solusi bagi penyelesaian persoalan di Bumi Cenderawasih. “Ini merupakan win win solution, seperti dulu ketika kita menerima otonomi khusus, meski dalam banyak hal, otsus lebih menguntungkan Jakarta,” kata Beatus Tambaip, pembicara dalam peluncuran buku ‘Angkat Pena demi Dialog Papua’ di Aula Sekolah Tinggi Fajar Timur, Abepura, Rabu (19/9).

Ia mengatakan, Dialog Jakarta Papua sebagai langkah menyampaikan aspirasi secara bermartabat. “Tapi harus diantisipasi jangan sampai setelah dialog, tidak ada hasil yang Papua terima, atau bagaimana merumuskan dialog yang tidak hanya memberi kesempatan pada Jakarta,” ujarnya.

Anum Siregar, Direktur Aliansi Demokrasi untuk Papua menambahkan, dialog menjadi alternatif dari banyak solusi yang ditawarkan bagi Papua. “Dan semua itu sudah dikerjakan, kita tidak lihat hasilnya, dialog hadir memberi peluang untuk Papua mengemukakan keinginannya,” kata Anum.

Peluncuran buku ini dihadiri puluhan peserta dengan sejumlah penanggap dan pembicara. Buku ‘Angkat Pena demi Dialog Papua’ sebelumnya diluncurkan di Jogjakarta dibuka Gubernur DIY Sri Sultan HB X. Sultan sekaligus menjadi pembicara dalam diskusi di Gedung Teatrikal Dakwah, UIN Sunan Kalijaga, 20 Juni 2012. Buku ini merupakan kumpulan opini tentang dialog Jakarta – Papua selama kurun tahun 2001 – 2011.

Sri Sultan optimis, sekelumit permasalahan di Papua harus dilaksanakan melalui paradigma baru komunikasi dialogis. Dialog, menurutnya bukan semata – mata NKRI, atau bahkan Papua merdeka. Melainkan, kerelaan untuk mau duduk bersama dan setara membicarakan semua permasalahan. “Komunikasi antara Papua dan Jakarta, merupakan rekomendasi yang paling mungkin untuk menyelesaikan masalah – masalah non fisik,” katanya ketika itu.

Sementara itu, dalam peluncuran siang tadi, sejumlah peserta menyampaikan respon positif atas buku kedua Dialog Jakarta Papua. “Kami menyampaikan apresiasi, saya juga penulis, tapi sangat berbeda ketika Pater Neles membuat buku ini,” kata Angela Flassy, Pimpinan Redaksi Suara Perempuan Papua.

Ia mengajak tiap orang memulai pergerakan bagi Papua dengan menulis. “Tidak banyak diterima Presiden dari mereka yang berdemo memperjuangkan aspirasi, tapi sangat banyak dari mereka yang menulis diterima pemimpin Negara untuk berdialog,” pungkasnya. (JO/Jayapura)