Di Selow, Murid Belajar di Lantai

Di Selow, Murid Belajar di Lantai

Merauke – Kondisi pendidikan di pedalaman Merauke masih jauh terpuruk. Lihat saja para siswa sekolah dasar di Selow, Distrik Muting, Merauke, yang harus duduk beralaskan sandal jepit di lantai. Belum ada bangku dan meja untuk tempat belajar mereka.
“Masih belajar di lantai, itu baru pemerintah bilang pendidikan sudah bagus di kampung, buktinya mana,” kata Sisilia Maturbongs, Kepala Sekolah SD YPPK Yohanes Don Bosco di Muting.
Ia mengatakan, SD YPPK Kampung Selow hanya diajar oleh seorang guru PNS dan 3 honorer. Dengan kondisi seadanya, guru PNS harus banting tulang mengajar kelas satu sampai kelas atas. Sementara tiga guru honor membantu dengan gaji tak seberapa. “Kasihan mereka, yang jadi guru honor juga adalah anak-anak sana, saya kira itu hanya pengabdian mereka saja di kampung,” ujarnya.
SD YPPK Selow hanya memiliki 3 ruang kelas dengan 6 rombongan belajar, mulai dari kelas 1-6 SD. Akibat keterbatasan tempat, masing-masing ruang diisi dua kelas. Siswa belajar berhimpitan dan harus menunduk kalau sementara menulis. Total murid SD Selow sebanyak 132 anak. “Kondisi ini sudah disampaikan pada dinas, tapi belum ada realisasinya,” kata Rura, Plt Kepsek SD YPPK Selaw.
Sementara itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Merauke, Moses Kaibu mengatakan anggaran pendidikan di Merauke cukup besar. Sayangnya lebih banyak habis pada belanja pegawai. “Program pemerintah tahun ini diharapkan dapat membantu kemampuan pendidikan di kampung, disana harus diakui begitu buruk, di Kimaam misalnya, hanya ada beberapa sekolah yang berjalan, lainnya macet karena tidak ada guru,” paparnya.
Ia menyarankan agar satuan perangkat kerja terkait di Merauke dapat lebih serius memperhatikan sekolah dasar yang ada di kampung. “Kalau sekarang tidak diperhatikan, akan jadi kebiasaan, akibatnya anak-anak kita kelak yang mendapat dampaknya,” kata dia. (02/AlDP)