Degewo, Kekayaannya Diambil dan Yang Punya Dibunuh
Kampung Kibay

Degewo, Kekayaannya Diambil dan Yang Punya Dibunuh

Nabire-Yulius Miagoni SH Sekretaris Komisi A DPRP membuka pertemuan antara pemerintah dan masyarakat untuk mencari solusi mengenai penambangan emas di Degewo,menyusul kasus penembakan 5(lima) orang warga yang terjadi pada tanggal 15 Mei 2012 di lokasi 45,Degewo, Paniai di Aula Akademi Perawatan,Nabire.(28/05/2012).

“Sebelumnya kami sudah melakukan pertemuan di Jayapura dan kini kami ingin juga mendengar masukan dari bapak dan ibu yang mewakili pemerintah dan masyarakat pemilik hak ulayat,” Ujarnya dihadapan peserta pertemuan yang berjumlah sekitar 80 orang.Dandim Nabire(merangkap Dandim Paniai),Kapolres Paniai,Kasat Intel Polres Nabire,Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kab Nabire dan Asisten II Kab Paniai turut hadir.

Mengenai peristiwa penembakan tanggal 15 Mei 2012, Miagoni mengatakan pihaknya sudah mendengar dari berbagai versi mulai dari yang mengatakan masyarakat yang bersalah,polisi sedang membela diri ataupun polisi yang bersalah karena langsung menembak masyarakat. “Tapi catatan penting untuk kita semua yang keluar kemana-mana, pertama kejadian itu adalah pelanggaran HAM dan kedua kekayaannya diambil dan yang punya kekayaan dibunuh,” katanya lugas.

Menurutnya,informasi seperti itu akan berakibat pada isu terganggunya stabilitas keamanan dan ketertiban, walaupun ada unsure kesalahan dari masyarakat,  sehingga DPRP sebagai wakil rakyat berusaha mengambil langkah-langkah tertentu supaya imbasnya tidak akan menjadi lebih buruk, di satu sisi mengancam stabilitas negara maupun mengancam harapan hidup masyarakat setempat.

Selanjutnya Miagoni menjelaskan dirinya dan Harun Agimbau(anggota DPRP lainnya) bukanlah berasal dari tempat kejadian perkara sehingga jauh lebih mudah bagi mereka untuk pergi meninggalkan tempat tersebut apabila ada kejadian yang mengancam jiwa mereka. Katanya “Tapi yang perlu kita pikirkan adalah orang yang punya rumah dan tempat disitu.Oleh sebab itu kalau kita bairkan seperti itu maka kami tidak bisa jamin masyarakat disitu akan tetap bisa hidup baik.Jadi harus ada jalan keluar segera”.

Miagoni kemudian menawarkan adanya langkah untuk menutup, “atau menutup sementara” katanya hati-hati dengan tujuan untuk menata kembali,melakukan komunikasi terlebih dahulu dengan berbagai pihak agar dapat meminimalisir kemungkinan buruk yang bakal terjadi.Pernyataan Miagoni tersebut mendapat respon dari berbagai pihak sehingga acara yang semula direncanakan berlangsung singkat,baru berakhir pada pukul 16.00 sore hari.(Tim/AlDP).