DAP Paniai Minta LPSK dan KOMNAS HAM Dilibatkan Pada Kasus Paniai

03 juni 15 DAP PaniaiJayapura – Setelah enam bulan tanpa ada langkah konkrit penyelesaian persitiwa di lapangan Karel Gobay Paniai tanggal pada 8 Desember 2014, ketua Dewan Adat Paniai (DAP) Jhon Gobay meminta kejujuran dari pemerintah RI.

“Komnas HAM telah  membentuk TIM Ad Hoc Kasus Paniai yang terdiri dari beberapa anggota Komnas HAM, dan unsur masyarakat sipil, seperti diamanatkan dalam Pasal 18 ayat (2) UU No. 26/2000 tentang Pengadilan HAM, untuk melakukan investigasi secara kompherensif, tuntas, dan menyeluruh,” jelasnya.

“Selain itu Mabes Polri dan Polda Papua, saat sedang berada di Enarotali dan hari ini akan melakukan sosialisasi,  meminta lagi  keterangan dari saksi dari peristiwa 7-8 desember 2014,”ujarnya di kantor AlDP (01/06/2015).

Namun dirinya menyayangkan proses tersebut karena menurutnya tanpa berkoordinasi dan kehadiran dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan KOMNAS HAM RI.

Lanjutnya,”Padahal semua saksi, saksi korban telah memberikan keterangan kepada Komnas HAM RI dan LPSK serta telah mengajukan permohonan perlindungan  ke LPSK”.

Menurutnya dalam kasus ini terkesan tidak ada sikap saling menghormati dan menghargai antar masing-masing institusi, tidak ada sikap ksatria, kejujuran dari institusi, sikap membela wibawa negara jauh lebih tinggi dari pada nilai sebuah kebenaran dan kejujuran serta independensi.

Dirinya meminta agar Kapolri, Panglima TNI, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua dan Pangdam XVII/Cenderawasih untuk menghentikan proses pemeriksaan saksi dan korban sambil menunggu kehadiran LPSK dan KOMNAS HAM RI.

“Kami juga meminta sikap kooperatif dalam mengusut tuntas peristiwa pembantaiaan di Paniai, dengan menghadirkan para pelaku dan saksi dari unsur militer untuk dimintai keterangan oleh tim ad hoc kasus Paniai,” tegasnya.

Data DAP Paniai menyebutkan bahwa pada peristiwa tersebut, terjadi pembantaian terhadap 4 (empat) pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA), yakni, Yulianus Yeimo (17), Apinus Gobai (16), Simon Degei (17), dan Alpius You (18), serta 1 (satu) warga sipil. Juga penyiksaan dan penembakan terhadap 18 orang yakni Korban kritis Yulianus Tobai (33), Andarias Dogopia (34), Jermias Kayame (48), Marice Yogi (52), Yulianus Mote (25), serta Agusta Degei (28); dan korban luka-luka ringan, Oni Yeimo, Yulian Mote, Oktovianus Gobay, Noak Gobai, Akulian Degey, Bernadus Bunai, Neles Gobai, Jerry Gobai, Oktovianus Gobai, Selpi Dogopia, dan Yuliana Edoway.(Tim/AlDP)