Damai, Melompat dari Kesamaan Primordial

Damai, Melompat dari Kesamaan Primordial

Timika – Ketika menghadapi berbagai masalah di Papua, khususnya Timika, yang terpenting adalah bagaimana mendekati titik persamaan.

“Kita sering kali mencari titik persamaan hanya diantara internal paguyuban saja atau sesama agama, tapi sulit mencari titik persamaan sebagai sesama manusia,” kata Dr. Muridan Satrio Widjojo, salah satu koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) saat memberi tanggapan di acara Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai yang digelar Aliansi Demokrasi untuk Papua dan Jaringan Damai Papua di Timika, Selasa kemarin.

“Jadi untuk membangun perdamaian, kita harus melompot dari kesamaan primordial dan saling melihat sebagai manusia,” tegas Dr. Muridan.

Menurut dia, harus ada pondasi perdamaian yang dibangun di kalangan masyarakat sipil dengan saling terbuka dan terus menerus diantara Papua dan pendatang sebagai masyarakat sipil.

“Terus terang segregasi atau keterpisahan antara oang Papua dan pendatang itu sangat lebar. Berapa lama dalam seminggu kita melakukan interaksi lintas suku dan agama? Sangat sedikit,” ucapnya.

Diakuinya,  akhir-akhir ini terjadi banyak korban di kalangan pendatang, kemudian paguyuban bereaksi dengan mengatakan kalau polisi tidak bisa mengatasi maka paguyuban akan ambil jalan pintas.

“Sehingga konflik di lihat sebagai masalah Papua dan pendatang, padahal salah besar. Papua dan pendatang sama-sama sebagai korban. Bahaya kalau sesama korban berkonflik dan menghasilkan kekerasan komunal, ini yang mereka (pihak tertentu) mau,” paparnya

Misalnya kelompok paguyuban mulai mempersiapkan diri, darah akan tumpah dimana-mana dan tidak ada penyelesaian masalah. Siapapun dapat menjadi korban dan meluas. “Kita tidak ingin pendatang menjadi bemper. Konflik di Papua terjadi antara masyarakat Papua sama pemerintah. Sekali lagi, kemarahan-kemarahan ini karena basis pondasi perdamaian di masyarakat sipil ini lemah,” katanya panjang lebar.

Ia berharap, paguyuban harus keluar dari kesibukan internal. Keluar dan menunjukkan potensinya. Karena paguyuban sebagai asosiasi, jaringan sosialnya lebih bagus. “Sehingga yang diperlukan bagaimana melibatkan diri menjadi fasilitator, membangun dan menemukan kesamaan-kesamaan kepentingan untuk hidup berdamai,” katanya. (Tim/AlDP)