Catatan dari Perjalanan Sidang Forkorus dkk (Bagian Kesatu)
Lokasi Penembakan Keerom

Catatan dari Perjalanan Sidang Forkorus dkk (Bagian Kesatu)

Andawat-Sidang makar terhadap Forkorus dkk telah usai sepekan yang lalu, Forkorus dkk diputuskan bersalah secara sah dan menyakinkan dengan hukuman penjara selama tiga tahun atau dua tahun lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum(JPU). Tim Penasehat hukum dan JPU sama –sama telah menyatakan banding terhadap putusan yang dibacakan pada hari Jumat tanggal 16 Maret 2012. Berikut ini,rangkuman dari beberapa hal yang menonjol dari perjalanan sidang Forkorus dkk selama 13(tigabelas) kali di PN Klas IA Jayapura.

Bagian Kesatu : Kontroversi sikap Forkorus dkk
Pada awal persidangan,Forkorus dkk di Pengadilan Negeri Klas I A Jayapura, selalu diwarnai aksi-aksi ‘panggung’ yang dilakukan oleh Forkorus dkk.Seperti ketika Forkorus akan turun dari mobil tahanan dan dibawahnya dipenuhi oleh aparat kepolisian.”Polisi minggir,kalau tidak saya tidak mau turun!” teriaknya.

Ketika masuk di ruang sidang,Forkorus pernah mengusir beberapa orang pengunjung yang sudah lebih dulu duduk dikursi pengunjung sidang karena dicurigai sebagai aparat keamanan yang berpakaian preman alias intelejen. Saat dikursi Terdakwa,Forkorus pernah menanyakan beberapa orang yang sibuk memotret dirinya dari pintu masuk sebelah JPU.”kamu wartawan dari mana?saya tahu wartawan,”katanya.

Aksi lainnya adalah ketika dia menyerang majelis Hakim saat membacakan identitas kewarganegaraan,kala itu bukan hanya Forkorus tapi semua terdakwa.”Jangan paksa kami jadi warga negara Indonesia!”. Lantas Forkorus memperingatkan hakim saat akan membacakan identitasnya.”Awas kalau salah baca kewarganegaraaan saya”,waktu di kejaksaan kami sudah minta jaksa mengubahnya”.

Forkorus senantiasa menampilkan aksi yang spontanitas, seperti langsung berdiri dan mengambil mike di meja JPU sebelum dipersilahkan oleh majelis hakim atau ketika Forkorus menolak perkataan majelis hakim saat membacakan Putusan Sela,”Ibu, you belajar tentang sejarah Papua”,ujarnya pada salah satu hakim anggota.

Selain itu gaya keondoafiaannya juga sangat kuat,sebagai seorang kepala suku.Dia menuding hakim dengan mengatakan “Kami yang orang asli,anda-anda yang orang asing.Saya ondoafi ke sepuluh,you siapa?”.

Pada pagi hari tanggal 17 Pebruari 2012, Forkorus dkk tidak mau mengikuti sidang dengan alasan Dominikus masih sakit dan belum dibawa berobat. Ketika JPU dan Penasehat hukumnya datang ke ruang tahanan mereka di LP Abepura,mereka mengatakan hanya mau pergi sidang apabila Dominikus sudah diperiksa. Maka sidang ditunda hingga siang hari,ketika Dominikus usai menjalani pemeriksaan di RS Dian Harapan Waena Jayapura,sidang baru dilanjutkan.

Pada waktu itu Forkorus dkk menyatakan protesnya atas jalannya sidang yang berlarut-larut terutama ketika JPU membacakan secara rinci daftar Barang Bukti sebelum melakukan pemeriksaan saksi. Ketua majelis hakim mengatakan berhak untuk melanjutkan persidangan tanpa Forkorus.Forkorus dkk serempak berniat meninggalkan ruang sidang.Sidang ricuh dan di skors.Setelah utusan tim PH melakukan pendekatan kepada majelis hakim, baru sidang dilanjutkan kembali oleh majelis hakim.

Saat itu berita pemindahan sidang Forkorus dkk dari Jayapura ke Jakarta semakin terbuka.”Pindahkan kami justru lebih bagus agar akses media dan oang asing lebih gampang meliput sidang kami,kami tidak takut!” demikian ucapan Forkorus dkk. Pertemuan kembali dilakukan antara majelis hakim, JPU dan utusan PH Forkorus,disepakati sidang berikutnya(21 Pebruari 2012)menjadi tolak ukur untuk memutuskan sidang dipindahkan atau tidak.

Forkorus yang latar berbelakang seorang guru sangat sensitive dengan pertanyaan yang diajukan oleh JPU terhadap para saksi,”buat pertanyaan itu yang baik,kasian saksi ini tidak tahu apa-apa”. Atau ketika dia memprotes kehadiran Sekretaris MRP yang akan memberikan kesaksian,”You ada tidak di lokasi waktu konggres?” tanyanya pada sidang tanggal 21 Pebruari 2012.(Andawat/AlDP)