|

Catatan dari Perjalanan Sidang Forkorus dkk (Bagian Keempat)

Andawat-Sidang Forkorus dkk merupakan sidang yang kesekian kalinya untuk mengadili kasus makar yang selalu dituduhkan terhadap orang asli Papua.

Awalnya para pengunjung sidang dari masyarakat sipil sangat sedikit karena petugas keamanan yang menjaga di depan pagar masuk Pengadilan Negeri Klas I A Jayapura melakukan pemeriksaan dan mewajibkan setiap pengunjung mendaftarkan nama,alamat dan nomor kontak pada buku yang disediakan petugas keamanan.

Usai sidang pertama tanggal 30 Januari 2012,AlDP langsung mengirim surat protes atas kewajiban mencatat identitas pengunjung sidang,”tidak dibenarkan di persidangan manapun,sangat intimidatif,” demikian surat AlDP yang ditujukan kepada kapolda Papua.

Pada sidang selanjutnya,tidak ada lagi buku untuk mencatat identitas namun masih ada pemeriksaan terhadap pengunjung sidang.Tim PH kembali menulis surat dan mempertanyakan hal tersebut saat proses persidangan. Hingga kini pemeriksaan tetap dilakukan terhadap masyarakat sipil pengunjung sidang.Ternyata pada sidang terakhir,Forkorus dkk,Pihak kepolisian kembali menyiapkan buku tamu untuk mencatat identitas pengunjung sidang yang berasal dari masyarakat sipil(16/03/2012).

Diperkirakan setiap kali pengamanan sidang yang dilakukan oleh pihak kepolisian menelan biaya sekitar 12-14 juta rupiah berasal dari dana stabilitas pemda. Konon alasan itu pula yang membuat sidang seolah dipaksa untuk dipercepat.”Kita(pengadilan) tidak punya uang untuk membayar keamanan jadi pos biaya dari mereka,mungkin dari pemda,”Ujar salah seorang anggota Majelis hakim.

Ada juga aparat TNI yang berpakaian sipil/intelegen TNI, nampak dari beberapa petugas POM Militer di sekitar ruang sidang. Selain itu hampir setiap persidangan dihadiri pula oleh Dandim Jayapura.Dandim selalu berada di lantai atas atau di ruang ketua pengadilan negeri Jayapura bahkan pada pertemuan koordinasi dengan ketua pengadilan,JPU,kapolresta Jayapura dan perwakilan tim PH,Dandim turut mendengarkan di ruang ketua PN.

Sidang yang awalnya dimulai tepai waktu jam.09.00 WIT mulai molor sekitar 30 menit karena seringkali JPU terlambat menjemput para terdakwa dari LP Abepura kemudian terdakwa selalu mengadakan doa singkat sebelum memasuki ruang sidang.bahkan beberapa kali majelis hakim sudah lebih dulu berada di ruang sidang.

Meskipun sidang dipenuhi oleh aparat keamanan namun para pendukung Forkorus terus bertambah jumlahnya hingga akhir persidangan.Mereka dengan setia mengikuti persidangan dan bertepuk tangan apabila mendengar pernyataan-pernyataan Forkorus dkk melalui pengeras suara yang disediakan oleh PN Jayapura.

Sebenarnya kontroversi yang dilakukan oleh para terdakwa saat persidangan makar bukanlah hal yang baru. Saat sidang Theys H Eluay(2001) Theys sempat ribut dengan Roberth Jhonso kala itu kapolres Jayapura namun itu di ruang tunggu pengadilan,bukan di ruang sidang.

Sidang terhadap Theys Eluay dkk memang agak berbeda.Proses persidangan yang menghadirkan saksi-saksi dari kedua belah pihak termasuk keterangan ahli dari Dr.Muridan Satrio Widjojo dari LIPI dan bukti-bukti surat terkait notulensi pertemuan dengan pihak pemda dan keamanan termasuk bukti transfer dana dari pemerintah pusat sebesar 1 Milyar untuk Konggres III tahun 2000 menyebabkan hakim mengeluarkan Putusan,”terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana makar namun tidak dapat dihukum karena ada bantuan dari pemerintah”.

Pada sidang kasus pembobolan gudang senjata Kodim Wamena tahun 2003,sikap majelis hakim terlihat sangat represif,sangat dimungkinkan juga karena tekanan dari pihak keamanan.Ketua majelis hakim sempat mengeluarkan kata-kata seperti,”saya tahu semua orang di luar sana,melawan pemerintah,pemberontak”,katanya saat memimpin sidang di PN Wamena.

Atau ketika mengatakan,”kamu mengaku saja maka saya akan kasih bonus hukumanmu”. Tanpa dapat membuktikan kualifikasi keterlibatan terdakwa,waktu itu Linus Hiluka,Kimanus Wenda dan Apot Lokobal diputus 20 tahun penjara sedangkan Jafrai Murib dan Numbungga Tellenggen menjadi terpidana seumur hidup.

Saat terhadap Filep Karma dan Yusak Pakage(2005),juga ribut antara Yusak dengan majelis Hakim yakni Lakatoni SH.Waktu itu saat Yusak protes dan akan meninggalkan ruang sidang,hakim mengatakan” kalau kamu keluar saya akan minta polisi tembak kamu”. Atau bahkan hakim Lakoni diduga kuat terlibat dalam pemukulan pengunjung sidang pada peristiwa tanggal 10 Mei 2005.Yusak dan Filep Karma menjalani putusan 10 tahun dan 15 tahun penjara.

Perkataan-perkataan majelis hakim saat memimpin sidang cenderung menunjukkan pandangan majelis hakim saat akan memberikan putusan. Sebagaimana sikap majelis hakim,terutama ketua majelis hakim pada persidangan Forkorus.Setidaknya majelis hakim memutuskan para terdakwa kasus makar telah dinyatakan bersalah.

Sikap majelis hakim terlihat berbeda saat memulai sidang dan ketika sidang sudah di pertengahan. Awalnya meski Forkorus dkk melakukan banyak reaksi spontanitas, seperti menyela pembicaraan,berdiri atau mengambil mike dan bicara tanpa ijin,selalu direspon dengan tenang oleh majelis hakim. Namun pada sidang-sidang berikutnya nampak majelis hakim mengatur startegi untuk lebih tegas. Persidangan berikutnya,sudah tidak ada mike ‘nggangur’ di meja JPU yang dekat dengan posisi duduk para terdakwa.

Apalagi ketika masuk pada agenda pemeriksaan saksi majelis hakim nampak sangat mengontrol jalannya persidangan.Hingga kursi para terdakwa di samping tim PH,disediakan bangku panjang bukan kursi satu persatu.”Diatur jangan sampai ada yang lempar melempar kursi,”ujar petugas di PN.

Saat mengkonfrontir keterangan terdakwa dengan saksi,ketua majelis hakim seringkali cepat mengambil alih pembicaraan.”Jadi kamu tetap pada keterangan di BAP?” katanya pada saksi dari kepolisian yang keterangannya dibantah oleh para terdakwa.

Ketika para terdakwa akan menjelaskan lebih detail,ketua majelis hakim mengatakan,” Bilang saja mana yang benar dan tidak benar dari keterangannya,tidak usah panjang lebar,nanti ada waktu saat keterangan terdakwa”.Atau ketika masih ada perdebatan panjang antara JPU dan terdakwa serta tim PH terdakwa,ketua mengatakan,”Tidak bisa dipaksakan,keterangan masing-masing”.Sehingga keributan antara JPU dengan terdakwa dan PH nya berakhir.

Pada momentum tertentu,majelis hakim terlihat tetap berusaha membuka ruang terhadap JPU,Tim PH dan para Terdakwa sambil tetap berusaha memimpin sidang dengan cepat dan tegas. Hingga saat putusan dijatuhkan, ketua Majelis hakim langsung menutup sidang setelah membacakan vonis.

Akhirnya sidang kasus makar Forkorus dkk diselesaikan dengan cepat, tak lebih dari 1,5 bulan dengan 13 kali agenda persidangan yang dipandu oleh 5(lima) orang majelis hakim.Sidang yang sempat ricuh dan rencana dipindahkan berakhir dengan aman.Terima kasih untuk semuanya:Majelis hakim,Tim PH, Para Terdakwa,JPU,pihak keamanan dan masyarakat sipil. Segala puji dan syukur hanya sepantasnya dikembalikan kepada Tuhan Yang maha Kuasa.(Tim/AlDP)

 

Posted by on Apr 19 2012. Filed under Features. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply