Catatan dari Perjalanan Sidang Forkorus dkk (Bagian Kedua)

Features

Jayapura-Ada beberapa statement yang selalu diulang-ulang oleh terdakwa Forkorus dkk selama proses persidangan mereka.

Statement pertama,”kami warga negara Papua Barat ras Negorid, bangsa Melanesia”. Setiap kali menyangkut pembacaan identitas kewarganegaraan,Forkorus dkk memprotes hakim dan JPU. Pada persidangan kedua, Forkorus dkk membawa spanduk ke dalam ruang sidang”Jangan paksa kami jadi warga negara Indonesia”.

Pernyataan sebagai warga negara Papua Barat dipertegas kembali saat membacakan pembelaan pribadi mereka pada sidang tanggal 9 maret 2012.

Kedua,“kami subyek hukum yang berbeda dan menolak untuk diadili oleh peradilan Indonesia”.Hal ini dipertegas dengan beberapa pernyataan Persnya seusai sidang.Kemudian dipertegas dengan pernyataan’karena itu kami menolak hukuman dan meminta Indonesia untuk mengalihkan kekuasaan kepada negera Republic Federal Papua Barat”.

Ketiga,Forkorus mengatakan memiliki pengacara internasional. Statement tersebut sempat membuat beberapa PH yang mendampinginya bertanya-tanya.Pada satu kesempatan kunjungan ke LP Forkurus mengatakan bahwa dia sangat menghargai dan merasa dihormati oleh Tim PH yang selama ini telah mendampinginya.

Adapun maksudnya mengenai pengacara International adalah pengacara yang mereka minta untuk melakukan peran yang berbeda dari yang sedang dilakukan oleh Tim Penasehat hukum yang selama ini sedang mendampingi perkaranya di PN Jayapura.”Kami sadar bahwa kami sangat dibantu oleh pengacara saat persidangan ini,”demikian katanya di LP Abepura(15/02/2012).

Keempat,statement Forkorus mengenai Deklarasi. “Di Deklarasi kami tidak bilang pemisahan, tapi pemulihan,recovery dan restorasi kemerdekaan bangsa Papua Barat yang telah dihina oleh Soekarno melalui Pepera”, tegasnya berkali-kali setiap dikonfrontir oleh majelis hakim terkait bunyi pasal 106 KUHP. “Tidak ada pemisahan, kami mau kemana,ke langit? Ini tanah kami. Saya tidak mendirikan negara di atas negara.”Indonesialah yang telah mendirikan negara dia atas negara Papua Barat,Indonesialah yang telah merongrong kemerdekaan Papua Barat,”demikian sebagian isi Pembelaan Selpius Bobii yang dibacakan tanggal 9 Maret 2012.

Kelima,Forkorus dkk selalu menggunakan kata ‘penyerangan’ terhadap aksi aparat POLRI/TNI saat membubarkan KRP III 19 Oktober 2011. Menurut mereka aksi tersebut pantas disebut penyerangan sebab KRP III telah selesai 2 jam baru aparat kepolisian dan TNI masuk ke arena KRP III, mengejar dan menangkap rakyat Papua, dirinya dan kemudian menyebabkan tewasnya,setidaknya 3(tiga) orang warga sipil. Apalagi kemudian aksi pembubaran tersebut tidak didahului dengan peringatan dari Kapolresta,tidak ada surat perintah untuk penangkapan dan penggeledahan.(Tim/AlDP)

 

Silahkan mengisi komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang wajib diisi *

*