Catatan Awal Kasus Arso 6 Kabupaten Keerom Papua : Jangan Jadi Konflik Horizontal

Kapolres KeeromJayapura-Pada hari kamis dinihari sekitar pukul 02.00 Tanggal 14 Januari 2016 telah terjadi pencurian dengan kekerasan(curan) di rumah Muslimin(53 tahun) warga kampung Arso 6 distrik Arso Kota kabupaten Keerom.

Menurut keterangan Ibu D, istri korban, awalnya pencuri masuk ke kamar anak korban yang sudah menikah(S).Saat itu S sedang tidur bersama anaknya yang berumur sekitar 2 tahun. S melihat ada orang di kamarnya dari balik kelambu. Orang itu mencoba membuka kelambu. S lantas berteriak”pencuri”.

Teriakan S membangunkan seisi rumah, maka Ibu D(Istri korban) ikut terbangun dari kamar di bagian belakang, demikian juga korban (Muslimin) yang berada di kamar depan, ruangan yang disekat dari ruang tamu.

Pencuri kemudian terjebak, melihat seisi rumah telah mengetahui keberadaannya,lantas dia melarikan diri dengan memilih salah satu pintu dimana korban berdiri. Korban memeluk pelaku dari depan, terjadi saling tarik menarik hingga ke halaman di depan pintu. Pelaku kemudian mengambil pisau, menusukkan ke arah belakang korban, setidaknya ada 5 tusakan. 2 dibagian belakang satu diantaranya sangat dalam sekitar 20 cm dan kemudian di bagian tengkuk, leher dan dahi. Seketika korban terjatuh terlentang.

Saat terjadi saling tarik menarik, D, istri korban sempat melemparkan pot bunga ke dahi pelaku lebih dari sekali. Namun usai membunuh, pelaku melarikan diri. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit namun nyawanya tidak tertolong. Sekitar pukul 10.00 pagi hari, korban langsung dimakamkan.

Ibu D, istri almarhum Muslimin mengatakan pada malam kejadian dirinya sempat melihat pelaku dengan cirri-ciri tertentu ,baik postur tubuh maupun potongan rambutnya hanya saja wajah pelaku ditutupi dengan warna hitam.

Pada hari jumat tanggal 15 Januari 2016 dilakukan pertemuan dengan tokoh masyarakat di Polres Keerom, hasil pertemuan menyepakati agar kasus tersebut diserahkan kepada proses hukum dan tidak ada yang boleh main hakim sendiri. Kasus tersebut adalah kasus kriminal murni tanpa melibatkan kelompok etnis tertentu. Sembari dengan itu, terhembus kabar jika akan ada serangan balik terhadap sekelompok etnis tertentu. Kapolres Keerom AKBP Tober Sirait telah juga memberitahukan TA, warga asal Pegunungan yang dianggap sebagai kepala suku. Padanya Kapolres mengatakan ada ancaman serangan balasan dan rumah TA menjadi target dari serangan balasan tersebut. Kapolres kemudian menyiapkan pasukannya untuk melakukan penjagaan di sekitar rumah TA di Arso 6.

Sekitar pukul 21.00 malam hari,telah datang sekelompok orang yang berniat membakar rumah TA namun dapat dicegah oleh aparat kepolisian. Selang beberapa jam kemudian atau sekitar pukul 23.30 tiba-tiba terjadi mobilisasi massa yang sangat besar dari berbagai penjuru wilayah pemukiman, mereka masuk dari Arso 1 maupun Arso Swakarsa. Menurut kapolres Keerom, AKBP Tober Sirait setidaknya ada sekitar 2000 orang, mereka sambil berteriak, membawa parang juga sambil melempar menuju ke rumah TA.

“Polisi berjumlah 200 orang namun tidak mampu menghalau massa. Dalam keadaan malam hari, jika kami menembak, tembakan bisa mengenai sembarang orang karena kekuatan peluru masih lurus dalam 600 meter,akan ada korban yang kena tembak,jadi hanya tembakan ke atas berkali-kali,” demikian penjelasan Kapolres Keerom saat ditemui tim di ruang kerjanya(20/01/2016).

Massa yang datang bukan saja berasal dari Arso 6 tetapi dari beberapa pemukiman transmigrasai seperti Skamto, Arso 7 dan Arso 8. Seorang saksi di sekitar Pasar Arso Kota mengatakan sejak sore hari telah terdengar tiang listrik dibunyikan berkali-kali. Sejak peristiwa Arso 1 bulan Agustus 2014, tiang listrik menjadi tanda berkumpul bagi kelompok/etnis tertentu.

Larangan aparat kepolisian tidak diperdulikan, maka rumah yang ditempati oleh TA dibakar juga rumah AW. Usai melakukan pembakaran, massa meninggalkan tempat kejadian. Keluarga TA dan AW diungsikan di Polres Keerom kemudian TA dan AW dijemput untuk diungsikan juga sambil menunggu tempat permenan yang rencananya akan disiapkan oleh pemda Keerom.

Di Arso 6 ada sekitar 15 KK warga pengunungan. Saat kejadian, 4 Keluarga asal pengunungan langsung mengungsi di gereja Katholik Arso6I, ada juga yang memilih mengungsi ke Jayapura hingga situasi aman baru balik ke Arso 6. Meskipun kini mereka telah kembali ke rumah masing-masing namun masih diliputi ketakutan. Hubungan diantara penduduk Arso 6 dan sekitarnya belum pulih benar.

Terkait dengan pelaku pencurian dan penikaman, kapolres mengatakan telah memeriksa 12 orang untuk dimintai keterangannya. Kapolres mengatakan, ada dugaan pelaku setidaknya pernah berada atau singgah di rumah TA, meskipun tidak dapat dipastikan bahwa TA mengentahui bahwa orang yang pernah singgah di rumahnya yang melakukan pencurian.

Kini polisi masih mengejar pelaku pencurian dan pembunuhan sedangkan terhadap pelaku pembakaran rumah, Kapolres mengatakan bahwa pemilik rumah sebenarnya berada di Jakarta, dia yang telah melaporkan terjadi pembakaran rumah. Terkait pelaku pembakaran,Kapolres tidak menjelaskan apakah ada proses hukum terhadap mereka atau tidak. TA sebagai korban kebakaran masih menuntut haknya atas kerugian yang dialami bersama keluarganya.

Kapolres kemudian mengatakan ada dugaan, bahwa TA telah menguasai rumah itu secara tidak sah, TA juga dituduh melakukan sejumlah sikap tidak terpuji terhadap penyelenggara pemerintahan di tingkat kampung Arso 6 tersebut.

Terhadap peristiwa pembakaran rumah, ada yang juga mengaitkannya dengan pilkada yang berlangsung tanggal 9 desember 2015 lalu. Pandangan ini berkembang dengan berasumsi bahwa tidak semua rumah orang pegunungan yang dibakar,hanya orang yang mendukung kandidat tertentu saja.

Lebih jauh lagi ada yang mengaitkan dengan peristiwa lainnya yakni soal konflik antar etnis dan agama. Pandangan ini disadarkan dengan alsaan bahwa ada yang berusaha tidak saja membakar rumah TA tapi juga hendak membakar kantor kampung. Selain itu massa yang datang sulit untuk dikendaikan.

Pemda Keerom mengambil langkah untuk memberikan santunan kepada keluarga korban pencurian dan pembunuhan juga bagi keluarga korban kebakaran masing-masing sebesar Rp.100 juta yang diserahkan langsung di Polres Keerom pada tanggal 18 Januari 2016.

Pertanyaannya yang masih perlu dijawab adalah mengapa pembakaran tidak dapat dicegah padahal sudah diketahui bahwa akan ada rencana ke arah itu?. Jika disadari bahwa kekuatan aparat Polisi tidak mampu membendung massa,seperti yang terjadi pasa Arso 1 pada Agustus 2014, lantas mengapa massa yang hendak melakukan pembakaran tidak dicegah di titik mereka keluar? mengapa konsentrasinya ada pada TKP bukan pada titik massa keluar?.

Diketahui bahwa peristiwa pencurian terjadi pada hari kamis tanggal 14 Januari 2016 dan peristiwa pembakaran terjadi pada tanggal 15 Januari 2016, mengapa meskipun sudah dilakukan pertemuan akan tetapi para tokoh masyarakat tidak dapat menghentikan warganya? Mengapa begitu cepat arus massa berkumpul menuju TKP? (rumah yang dibakar).

Massa mengatakan bahwa kejadian pencurian dengan kekerasan sudah sangat sering terjadi dan aparat kepolisian tidak bertindak tepat untuk memenuhi rasa keadilan korban. Ini menuntut aparat kepolisian lebih professional untuk melakukan penegakan hukum.

 

Ada fenomena baru dari masyarakat yang memilih tidak menunggu hasil kerja polisi tetapi main hakim sendiri dan ini lolos dari kejaran polisi. Fenomena ini berbahaya sebab jikalau tidak dicegah dan dibubarkan maka ini akan dijadikan pola karena diketahui polisi tidak akan mengambil tindakan tegas terhadap cara mereka menyelesaikan masalah mereka.

Masyarakat dalam berbagai kelompok yang berpotensi untuk mereproduksi kekerasan apalagi jika sudah ada stigma yang saling melekat. Hendaknya kondisi dapat dicegah dan dihentikan agar tidak membuat masalah bertambah besar dikemudian hari. (Tim Investigasi Dekenant Keerom dan AlDP).