Bukan Suster Tapi Melayani di Pustu
Puskesmas di Manokwari

Bukan Suster Tapi Melayani di Pustu

Puskesmas di Manokwari

Manokwari – Namanya Maria Mandacan. Warga di Kampung Tobou, Manokwari, mengiranya seorang bidan atau suster.

“Saya sama dengan pak Oskar Mandacan, layani masyarakat di Pustu tapi kami bukan perawat, tidak ada SK, tidak digaji,” katanya, kemarin.

Jarak Kampung Tabou, Distrik Ransiki dari Manokwari sekitar 3 jam dengan melewati jalan yang sebagian besar kondisinya cukup baik.

Maria bertindak sebagai petugas medis. Ia melayani pasien ibu dan anak, membantu persalinan dan bertugas di Posyandu. Setiap 3 kali seminggu, ia bersama Oskar Mandacan membuka Pustu. Mereka mengobati warga Kampung Tobou yang terdiri dari 66 KK ditambah dua warga dari dusun tetangga.

“Kami bekerja dengan sukarela,” katanya. Maria mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan medis saat dirinya masih menjadi istri kepala kampung. Ia merasa terpanggil sebab tidak ada petugas kesehatan yang bersedia menetap.

Setiap bulan Maria melakukan pelayanan Posyandu. “Kadang ada rasa malas karena kami tidak dibantu dari Puskesmas atau Dinas, Puskesmas jarang datang, untuk makanan tambahan kadang kami pakai uang sendiri,” katanya lagi.

Salah satu tugas mulia Maria adalah membantu persalinan. Bekalnya berupa sarung tangan dan gunting yang disimpan di Pustu, tanpa alat lainnya terutama untuk sterilisasi.

Maria ikhlas bekerja meskipun tidak digaji. “Kalau saya tolong melahirkan, kadang dikasih 50 ribu atau 100 ribu, kadang juga tidak, saya tetap terima dan kerja,” tuturnya.

Maria seperti Oskar, berharap dapat diangkat sebagai pegawai pemerintah  agar kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi. Setidaknya memiliki dana operasional untuk tetap melayani warga kampung. (Tim/AlDP)

  • ety

    dipustu distrik bonggo kan ada tenaga medis dari ntt yang tamat SMK Keprawatan.siapa sih nama orang- orangnya?