Bintuni Masih Bermasalah Soal Penerangan

Warga Bintuni, Papua Barat

Bintuni – Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, masih bermasalah soal penerangan. Listrik di daerah itu ‘hidup’ pukul 18.00 wit dan mati pukul 06.00 wit. “Jadi disebut kabupaten enam enam, tiap jam enam mati dan hidup,” kata Herry Saflembolo, Asisten Muda Deputi 4 Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), kemarin.

Ia mengatakan, tiadanya penerangan maksimal membuat warga tak penuh beraktivitas. “Pasti kantor-kantor juga tidak full kerja, kalau mau pakai genzet, bisa juga, tapi biaya akan habis di bahan bakar, ini kabupaten Genzet,” ujarnya.

Herry menambahkan, menjadi tugas pemerintah menjadikan Bintuni terang seratus persen. “Tapi jujur, kalau masalah pembangunan, Bintuni maju dibanding daerah pemekaran lain, masalah hanya soal listrik, investasi tak akan jalan kalau tidak ada listrik,” ucapnya.

Pemerintah berencana, lima Distrik di pedalaman Teluk Bintuni, diantaranya Saengga, Tanah Rubuh, Onar, dan Onar Baru, akan dialiri listrik tanpa padam mulai September 2012.

Secara bertahap wilayah Selatan Teluk Bintuni, seperti, Aranday, Kamundan, Weriagar, Mogotira dan Sebyar – Rejosari juga akan mendapat jatah penerangan. Pada tahap berikutnya, daerah sekitar distrik Babo dipastikan sudah bisa pula menikmati listrik penuh.

Pemkab Kabupaten Teluk Bintuni mendapat kepastian setelah terjadi pembicaraan serius dengan pihak BP Tangguh yang berakhir beberapa pekan sebelum digelar Rapat Kerja Bupati dan Wali Kota Se – Papua Barat pada 14 Mei lalu di Kabupaten Teluk Bintuni.

“Kalau listrik sudah masuk Bintuni, sudah pasti akan jauh lebih maju, lima sepuluh tahun ke depan, daerah ini akan menjadi tujuan investasi, UP4B mendukung penuh hal itu,” kata Herry. (02/ALDP)