Bintang Kejora Ekspresi Ideologis dan Identitas Kepapuaan

Filed under: Kolom Andawat |

Andawat-Di Papua ada bendera berkibar dimana-mana,puluhan bahkan ratusan jumlahnya dan pemerintah Indonesia menjadi lebih panic dari biasanya. Di waktu-waktu tertentu sudah pasti akan ada bendera Bintang Kejora(BK) yang berkibar,baik itu dikibarkan secara terbuka oleh rakyat Papua hingga berkibar dengan cara-cara yang kadang masih dipertanyakan,siapa yang sebenarnya mengibarkan atau meletakkannya pada saat operasi penyisiran seperti pasca aksi kekerasan yang terjadi di BTN Tanah Hitam Jayapura pada Agustus 2011.

Maka seharusnya kejadian tersebut tidak lagi membuat pemerintah Indonesia khawatir dan panik.Seharusnya pemerintah sudah mengetahui permasalahan mengapa BK selalu dikibarkan,kecuali kalau memang pemerintah tidak mau tahu bahkan mencoba untuk mendesign scenario lain terkait dengan berbagai cara BK dikibarkan.

Satu saja prespektif pemerintah Indonesia,mengibarkan BK adalah makar dan karenanya harus diproses secara hukum seperti yang dialami oleh dr.Thomas Wanggai 14 Desember 1988, Phillep Karma 3 Juli 1998 dan 1 desember 2004.Bahkan ada juga dengan menggunakan pendekatan pembunuhan di luar proses hukum/extra judicial killing. Terjadi aksi kekerasan,orang ditembak,meninggal dan tidak ada pertanggungjawaban apapun dari negara sebagaimana yang dialami Opinus Tabuni saat Hari Pribumi 9 Agustus 2008 di Wamena dan terhadap Theo Karoba saat pulang menghadiri demonstrasi menentang hari Integrasi Papua tanggal 1 mei 2012 di Abepura serta kejadian lainnya.

Sebenarnya tiap kali bicara soal Papua, selalu ada kaitannya dengan BK oleh karena itu BK ada dimana-mana,bukan saja dikibarkan saat melakukan demonstrasi tapi juga dalam berbagai hal.Kadang diekspresikan sangat nyata dan kadang dikombinasikan dengan berbagai aksi atau peristiwa lainnya.BK menjadi ide dasar dari pesan ideologis  yang menyerap ke berbagai aktifitas lainnya.

BK ada di dalam buku-buku ilmiah,di berbagai media massa,komputer,dompet,laptop,handphone,topi,t-shirt, cat rumah dan pagar atau pada rajutan di tas. BK juga dibentangkan saat orang menari,di dinding sekolah juga menjadi nama anak.BK juga ada pada hiasan kue ulang tahun saat ibadah 1 desember 2004 yang sempat membuat polisi panic,menyita kue tersebut dan melakukan pemeriksaan di Polsek Sentani.Bahkan salah satu SMA Negeri di kota Jayapura mendesign t-shirt sekolah mereka dengan warna dasar BK dan menaruh satu bintang di lengan baju.

BK menjadi salah satu bentuk ekspresi terdalam dari orang Papua untuk menunjukkan identitas kepapuannya sekaligus sebagai bahan kampanye untuk menggugat penyelesaikan permasalahan mendasar di tanah Papua.Maka sangat fatal kalau BK hanya dilihat sebagai alasan untuk mengadili dan menghukum orang Papua apalagi untuk menjustifikasi kekerasan di Papua.

Menangkap dan mengadili orang Papua karena BK tidak akan pernah menjadi jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah di Papua.Proses hukum tidak akan membuat orang Papua menjadi ciut bahkan semakin banyak bendera yang dikibarkan dimana-mana.Sebelumnya saat demonstrasi hanya ada satu BK kini puluhan bahkan ratusan BK berkibar dibanyak tempat.Artinya tuntutan hukum tidaklah menakutkan lagi buat rakyat Papua.

Termasuk dengan menghadang berkibarnya BK di Papua secara yuridis formal. Kenyataannya meskipun pemerintah telah mengeluarkan PP 77 tahun 2007 yang intinya melarang digunakannya BK sebagai lambang daerah namun BK tetap berkibar.Bagi orang Papua mengibarkan BK tidak perlu menunggu persetujuan pemerintah karena BK sudah mengakar kuat sebagai salah satu bentuk ekspresi terdalam dari identitas kepapuaan.

Akibatnya proses hukum yang terus dipaksakan oleh pemerintah Indonesia justru akan mempermalukan pemerintah Indonesia sendiri apalagi dengan menggunakan pendekatan kekerasan di saat pemerintahan Indonesia dibawah SBY sedang dipuji masuk dalam barisan negara demokrasi baru di Asia dan secara khusus di tahun 2011 hingga 2012 SBY telah mengeluarkan beberapa pernyataan tentang Papua, membangun Papua dengan hati dan menyelesaikan masalah Papua tanpa kekerasan dengan mendukung dialog.

Persoalan di Papua harus diselesaikan dari akar persoalannya bukan menyelesaikan dampak-dampaknya dengan kekerasan seperti itu. Aksi kekerasan hanya akan menguntungkan pihak tertentu yang memang menghendaki Papua terus dalam keadaan kacau balau dan itu tidak akan berhasil mewujudkan rakyat yang patuh atau negara yang dikehendaki rakyatnya.Setiap aksi kekerasan tidak ada korelasi yang positif dengan argumentasi mempertahankan integritas kenegaraan dan kebangsaan karena justru akan mencelakai NKRI yang penuh dengan symbol-simbol kearifan mulai dari Pancasila hingga Pembukaan UUD 45.

Oleh karenanya itu bukan saja pernyataan SBY yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah di Papua tapi yang terpenting adalah dukungan konkrit dari berbagai institusi di bawahnya yang bertanggungjawab langsung di Papua. Pemerintah pusat harus mampu menata berbagai institusi yang berperan di Papua untuk bekerja dalam satu agenda bersama dan mampu menjamin penyelesaian masalah di Papua tanpa kekerasan.(Andawat/AlDP)

Share Button

One Response to Bintang Kejora Ekspresi Ideologis dan Identitas Kepapuaan

  1. Masalah di Papua bukan masalah kesejahteraan dan pembangunan,melainkan masalah Status Politik Bangsa Papua Barat.Pemerintah Indonesia segera selesaikan masalah Papua dengan cara yg bermartabat yg pernah ditawarkan oleh Rakyat kepada Pemerintah……

    Anak Karef Hamit
    May 5, 2012 at 3:17 am
    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ 7 = 14

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>