Biaya Masuk Perguruan Tinggi di Jayapura Selangit

Auditorium Uncen Abepura

Jayapura–Biaya masuk perguruan tinggi di Jayapura ternyata tidak semurah dibayangkan. Di Universitas Cenderawasih Jayapura, ‘uang pelicin’ bahkan jauh lebih tinggi hingga Rp50 juta. “Ya, kami diminta bayar lima puluh juta, katanya uang itu ucapan terima kasih pada dekan,” kata AA, seorang warga Abepura, kemarin.

Ia mengatakan, anaknya yang baru lulus SMA mendaftar pada salah satu fakultas di Uncen. Setelah mengikuti masa orientasi, ia diminta segera melunasi biaya pendaftaran yang tidak terprosedur hingga puluhan juta. “Itu untuk satu orang, bayangkan, kalau ada ratusan anak, tiap anak lima puluh, berarti sang dekan akan sangat kaya raya,” ujarnya.

Kasus ‘pungutan liar’ di Uncen bukan cerita baru. “Dari dulu begitu, saya tahu persis. Bahkan ada oknum pegawai yang pernah minta mahasiswa hingga delapan puluh juta, ini namanya keterlaluan,” katanya.

Mahasiswa yang berniat masuk pada fakultas tertentu, mau tidak mau membayar uang tersebut. Ibnu, nama samaran, mahasiswa pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Uncen mengaku dimintai sebesar Rp50 juta. “Tapi kita belum kasih, katanya uang terima kasih. Maksudnya apa itu,” katanya. “Tidak semua pegawai begitu, ada beberapa pegawai yang memang mata uang,” ujarnya lagi.

Biaya kuliah di Papua termasuk ‘mengikat leher’. “Karena setelah masuk, pasti ada biaya macam-macam lagi, untuk SPP itu wajar, tapi biasanya ada juga biaya beli diktat, atau yang lain-lain,” kata Rafael Kapura, kandidat doctor Universitas Indonesia.

Menurut dia, menimba ilmu sejatinya perlu pengorbanan. Tapi mahalnya pendidikan tidak sepatutnya membuat anak Papua atau mereka yang tidak mampu, gagal mencapai perguruan tinggi. “Siapa bilang mencari ilmu itu murah, semua serba uang, tapi ya harus dilihat juga, apa dia mampu atau tidak, berikanlah kesempatan pada anak yang ingin kuliah tapi tidak kuat di financial,” ucapnya.

Sebelumnya, pejabat Rektor Universitas Cenderawasih Jayapura, Festus Simbiak membantah terjadi pungutan tidak normal dari mahasiswa. “Tidak ada itu,” katanya singkat. “Kalau ada pasti saya tahu,” pungkasnya. (02/ALDP)