Belasan Tahun Mengajar, Guru Honor Tak Diperhatikan

Belasan Tahun Mengajar, Guru Honor Tak Diperhatikan

SD YPPK Yohanes Don Bosco di Muting

Merauke–Belasan tahun mengajar ternyata tidak menjadi prasyarat dapat diangkat segera menjadi guru Pegawai Negeri Sipil di Distrik Muting, Merauke. Sejumlah tenaga honor masih menjalani status tidak tetap meski sudah bertahun-tahun berdiri didepan kelas.

“Kita minta agar guru honor diangkat, pengabdian mereka sudah tidak terukur, kenapa pemerintah harus mempertimbangkan lagi,” kata Sisilia Maturbongs, Kepala Sekolah SD YPPK Yohanes Don Bosco di Muting, pekan lalu.

Menurut dia, ironis honorer yang hanya beberapa bulan mengajar, kini telah menjadi guru tetap di sejumlah SD di Kota Merauke. “Tapi yang di kampung, tidak diangkat-angkat, mau bilang apa, saya kalau ada kewenangan itu, bisa angkat mereka sekarang,” ujarnya.

SD Don Bosco mempunyai 4 guru PNS dan enam honor. Pekerja paruh waktu itu diantaranya Agustinus Tabafmolo, Sisilia Wambon, Faustinus Ndiken, Imelda Kaize, Marthinus Ndiken dan Hermina Ondit. “Benar, kami hanya minta bisa segera diterima tahun ini,” kata Agus Tabafmolo.

Guru honor di SD Don Bosco dihargai Rp1.500.000 per bulan. Honor diambil dari dana Bantuan Operasional Sekolah. “Kita membayar sesuai dengan pengabdian, kami hanya berharap mereka segera diangkat,” katanya lagi.

SD Don Bosco memiliki 211 murid dengan 12 siswa di kelas enam. “Siswa kita tidak banyak, masalah kita juga adalah kadang murid tidak sekolah karena mengikuti orang tua ke hutan, harapannya para orang tua bisa mendukung anaknya sekolah,” kata Sisilia.

Sekolah Dasar di Distrik Muting diantaranya di Kampung Kolam (hanya punya 1 guru PNS dan 3 honor), SD YPPK Kampung Selow (1 guru PNS dan 3 honor), SD YPPK di Kampung Selil (1 PNS, 2 honor), SD YPK Pahas (5 PNS dan 1 honor), SD YPK Kampung Wan (2 PNS dan 4 guru honor), SD YPPK Boha (3 PNS, 3 Honor) dan SD Kampung Mandau (3 PNS dan 3 Honor).

Kepala Distrik Muting Merse Mahuze mengatakan, menjadi kawajiban pemerintah memperhatikan guru honor di pedalaman. “Kalau tidak ada perhatian, itu membuat mereka tidak betah, apalagi gajinya kecil.”

Ia berpendapat, kekurangan guru membuat kondisi pendidikan di Muting tidak maksimal. “Saya tidak mau tutup tutupi, disini guru minim, kiranya ada peninjauan kembali apakah dengan kurangnya guru akan lebih baik dibanding dengan penambahan guru,” katanya. (02/AlDP)