Berita

Bekerja Tanpa SK dan Tidak Digaji

Oscar Mandacan

Manokwari – Oskar Mandacan, mengabdikan dirinya belasan tahun di Pustu Kampung Tobou, Distrik Ransiki, Kabupaten Manowari.

“Saya bukan mantri tapi tenaga dari kampung saja,” ujar Oskar merendah saat dijumpai AlDP online di Kampung Tabou, awal Oktober 2012.

Di Kampung Tobou, Oskar dikenal sebagai pak mantri. Seminggu 3 kali dia membuka Pustu untuk melayani warga kampung dan dari dusun tetangga.

“Sebenarnya ada petugas di kampung ini sejak pertama Pustu dibuka tahun 2006 tapi mereka cuma nama, mereka tidak mau tinggal di kampung, kami sudah lapor, dinas sudah ganti orang tapi juga sama saja. Akhirnya dinas meminta kami untuk bantu warga,” jelasnya.

Untuk tugas tersebut, Oskar bermodal ketrampilan hasil didikan petugas Misi saat dia bekerja di Distrik Anggi. Dia juga meniru sikap penolong dari orang tuanya. Sejak kecil, Oskar tinggal bersama petugas Misi orang Jerman yang kemudian memotivasi dirinya untuk melayani orang lain.

“Setiap tiga bulan, saya melaporkan kondisi penyakit pasien dan mengajukan permintaan obat, kemudian tunggu sekitar 2-4 minggu  baru stok obat dikirim dari Puskesmas,” katanya.

Bila belum ada obat, pasien kerap disuruh pulang. “Saya bilang pulang saja. Kadang saya rasa capek baru pulang kebun sudah ada pasien di rumah, tapi mau bagaimana lagi.  Mereka pikir saya petugas jadi harus siap setiap saat,” ucapnya.

Pasiennya berkisar lima belas orang setiap hari dengan jenis penyakit influenza, malaria, rematik, asam urat dan luka-luka.

Oskar mengabdikan dirinya sejak tahun 1999. Rumahnya dijadikan “‘uskesmas Penolong’. Ia berharap dapat diangkat menjadi pegawai negeri. “Semua persyaratan sudah diajukan ke Dinas namun belum ada panggilan,” tuturnya.

Selama ini Oskar bekerja secara sukarela alias tanpa digaji, tanpa SK. “Kami bekerja karena panggilan dan belas kasih,” pungkasnya. (Tim/AlDP)