Bantuan Bank Papua Untuk Usaha Pinang Memberatkan

Bantuan Bank Papua Untuk Usaha Pinang Memberatkan

Yapen-Index Pembangunan Manusia (IPM) Yapen ditahun 2009 sebesar 69,10. Sementara di tahun 2010 menjadi 69,69. Bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan ekonomi menjadi penyumbang terkecil terhadap IPM tersebut.

Di bidang perekonomian,usaha jualan pinang merupakan salah satu bagian dalam dunia ekonomi yang mendapatkan perhatian pemerintah daerah melalui kerjasama dengan Bank Papua. “Pada tahun 2010 kami diberikan modal masing-masing orang Rp.1 juta. Kami diharuskan mengembalikan uang pinjaman kepada Bank Papua sebesar Rp 1.300.000,” kata Ibu Ani yang berjualan pinang.(20/05/2012).

Menurutnya pinjaman modal yang diberikan oleh Bank Papua cukup membantu. Namun saja mereka tetap terbebani karena bunganya terlalu besar. Masyarakat khawatir bagaimana mungkin dapat mengembalikan pinjaman sementara penjual pinang di Serui cukup banyak,jualan mereka kadang tidak laku.

Ibu Marina yang berjualan pinang dekat pelabuhan laut dan hanya pada malam hari pun mengatakan,” Jika laris semua maka bisa dapat Rp.100.000 – Rp.150.000. Namun jika sedang sepi pembeli maka biasanya hanya dapat Rp.50.000”. Ibu Marina mengakui bahwa kebutuhan hidup mereka sehari-hari cukup besar untuk biaya pendidikan anak, kesehatan termasuk biaya untuk makan harian.Untuk bisa memenuhi biaya hidup, didukung dari penghasilan suaminya yang bekerja di perusahaan pembuat batu tela.

Ibu Marina dan kawan-kawannya merasakan adanya pergeseran ekonomi sekitar 5 tahun terakhir di Serui dari sektor pertanian dan perkebunan ke sektor perdagangan dan jasa dan berdampak pada ekonomi skala kecil yang dominan dilakoni oleh pedagang asli. Pada umumnya masalah yang muncul selain karena akses modal dan jaringan kerja tapi juga semangat berusaha dan kurang adanya perlindungan dalam bentuk regulasi di daerah.(04/AlDP)