Bagia, Kampung Transmigrasi Khusus Keluarga Purnawirawan

Bagia, Kampung Transmigrasi Khusus Keluarga Purnawirawan

Keerom-Bagia, sebuah kampung yang terletak di bagian timur wilayah Arso, 13 km dari pusat Kabupaten Keerom. Pada tahun 1991, sebanyak 206 KK yang mengikuti program PIR-trans masuk ke wilayah Bagia yang kemudian dikenal dengan nama PIR III. PIR merupakan singkatan dari Perkebunan Inti Rakyat dan Bagia menjadi bagian dari program PIR-trans, yaitu pengembangan pola perkebunan yang dimaksudkan untuk menyelaraskan antara program pengembangan perkebunan dengan program transmigrasi yang dikembangkan pemerintah.

Ada Dari 206 KK yang masuk ke Bagia, 50 KK di antaranya merupakan keluarga purnawirawan TNI dan 156 KK lainnya merupakan masyarakat asli Papua dari sekitar Arso seperti Kwimi, Ubiyau dan Arso Kota. Keluarga purnawiarwan ini umumnya berasal dari Jawa, Sumatra, dan Sulawesi.

“Dulu mereka meminta kalau bisa yang pensiunan mendapat jatah lahan juga dan ternyata dikabulkan, khusus dari Kodam” ungkap Adam Takndarlere, kepala kampung Bagia yang juga anak mantan purnawiarwan saat ditemui di rumahnya (08/05/12). Karena tak memiliki keahlian bertani, mereka pun menyewakan lahan kelapa sawitnya kepada orang. “Kita semua di sini seperti penunggu. Lahannya disewakan ke orang, lalu saat panen kita tinggal dapat hasil” ungkapnya lagi.

Di Kampung ini masyarakat hidup membaur. Dari 50 KK purnawiaran itu, hanya 4 yang masih bertahan di kampung termasuk Adam Takndarlele. Sedangkan yang lainnya sudah pindah ke kota. Banyak dari anak dan cucu mereka yang menjadi polisi dan tentara. Adam Takndarlele sendiri mengaku dulunya ingin menjadi tentara juga tetapi dilarang ayahnya “Dia berpesan untuk tidak mengikuti jejaknya karena setengah mati, biar berwiraswasta saja”.

Kini Masyarakat pendatang yang tinggal tidak mencapai setengah dan  kebanyakan perantau. Berbeda dengan wilayah transmigrasi yang lain, wilayah transmigrasi PIR III belum cukup maju terlihat dari bangunan dalam kampung dan kondisi yang masih sederhana. Dominan masyarakatnya bertani, beternak, dan menjadi buruh kelapa Sawit di Arso Timur. Setiap hari terdapat 3 truk yang khusus mengangkut buruh dari kampung ini. Mereka bekerja dari pagi dan baru pulang saat sore hari.(01/AlDP)