Aparat Diminta Dapat Mengendalikan Emosi

Unjuk rasa warga Papua di Jayapura dikawal ketat Kepolisian

Jayapura – Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian Pengkajian Pengembangan dan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Papua Barat, Yan Christian Warinussy mengatakan, aparat harus senantiasa mengedepankan emosi merespon aksi penyampaian pendapat di muka umum yang seringkali berimplikasi pada lahirnya kekerasan.

Menurut dia, sudah saatnya Kapolda Papua bersama Pemerintah Daerah di Papua dan Papua Barat, merumuskan sistem pendidikan berbentuk kurikulum yang memberi bobot utama dan tinggi pada materi tentang antropologi budaya, antropologi sosial, komunikasi massa, resolusi konflik dan sosiologi.

“Hal dimaksudkan agar para calon anggota polisi yang bertugas di Papua dan Papua Barat selain memiliki pengetahuan dalam ilmu kepolisian, hukum serta keamanan dan ketertiban masyarakat, juga memiliki pemahaman yang cukup tentang bagaimana bentuk dan pola perilaku masyarakat Papua,” kata Warinussy.

Ia mengatakan, para pimpinan lembaga-lembaga keagamaan maupun kelembagaan sipil seperti Dewan Adat Papua, serta organisasi non politik dan pemerintah, setidaknya perlu juga diajak berbicara bersama pimpinan Polda Papua untuk mencari formula yang baik. “Tentunya dalam membangun sebuah sistem pendidikan anggota polisi di Tanah Papua yang spesifik tanpa mengeliminasi sosok dan kiprahnya sebagai abdi hukum dan penjaga kamtibmas di Indonesia,” ujarnya.

Selebihnya, aparat perlu selalu berpijak pada amanat pasal 49 UU Nomor 21 tahun 2001 dan UU No 35 Tahun 2008. “Karena aksi penyampaian pendapat di muka umum seringkali berimplikasi pada lahirnya kekerasan dan berdampak pelanggaran hak asasi manusia,” pungkasnya.

Aksi penyampaian pendapat yang berujung bentrok misalnya terjadi di Manokwari, Rabu 23 Oktober 2012. Akibat ricuh, lima polisi luka terkena lemparan batu. “Anggota ada yang terkena lemparan batu dari pendemo, saya kurang tahu apakah dari KNPB ada juga yang luka,” kata Kepala Kepolisian Resor Manokwari, Papua Barat, Ajun Komisaris Besar Polisi Agustinus Supriyanto.

Ia membantah pihaknya menembak demonstran. Dalam insiden itu, seorang wartawan dari Suara Papua, Oktovianus Pogau, terluka dipukul aparat. “Tidak ada penembakan, kalau ada kabar bahwa ada yang tertembak, tidak benar,” ujarnya.

Peristiwa itu bermula ketika seorang pengunjuk rasa melempar batu ke arah sejumlah orang yang mengambil gambar dari arah belakang polisi. Tak menerima pelemparan, polisi kemudian menembak ke atas untuk membubarkan massa. Sempat terjadi kejar-kejaran polisi dan demonstran. “Sekarang situasi sudah kembali kondusif,” kata Supriyanto. (JO/Jayapura)