Angka Gizi Buruk Tinggi, Bukan Kejadian Luar Biasa

Angka Gizi Buruk Tinggi, Bukan Kejadian Luar Biasa

Dokter Puskesmas Muting, dr. Ma’rifatul Ula

Merauke–Angka gizi buruk di Distrik Muting, Merauke, ditemukan telah melampaui sepuluh kasus. Di Kampung Kindiki, Muting misalnya, terdapat hingga belasan kasus gizi buruk menyerang warga.

“Tapi herannya, disini itu tidak termasuk kejadian luar biasa, kalau di Jawa, biar satu dua orang kena, pasti langsung disebut kejadian besar, ini sudah sampai belasan, pemerintah bilang itu masih wajar,” kata Dokter Puskesmas Muting, dr. Ma’rifatul Ula, belum lama ini.
Ia mengatakan, puskesmas selalu mendampingi masyarakat di kampung secara rutin. Dalam sepekan, kunjungan klinik mobile dilakukan pada satu kampung sasaran. “Kita jalan ke kampung, satu minggu satu kali, ada kampung yang sangat jauh, harus melewati kali, tapi kita enjoy saja. Saya sangat prihatin dengan kondisi mereka yang terkena gizi buruk di Kindiki,” katanya.
Menurutnya, kasus gizi buruk dan gizi kurang di pedalaman Merauke bukan karena kekurangan bahan pangan. “Pedalaman Merauke kaya akan hasil alam, saya kira lebih diakibatkan kurangnya asupan gizi, atau juga oleh faktor lain,” ujarnya.
Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan karena kekurangan asupan energi dan protein juga mikronutrien dalam jangka waktu lama. Anak disebut gizi buruk apabila berat badan dibanding umur tidak sesuai. “Puskesmas tidak akan bisa menangani mereka yang gizi buruk sudah parah, biasanya kita rujuk, kita juga kasih obat yang bisa membantu,” ucap Ula.
Kasus gizi buruk di Kabupaten Merauke meningkat pada tahun 2011. Data Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Merauke per Januari – September 2011, menyebutkan, terdapat 53 anak mengalami gizi buruk. Angka ini naik dibanding tahun sebelumnya yang hanya 23 kasus.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Merauke, persentase gizi kurang dan gizi buruk di wilayah itu mencapai 21 persen. Gizi kurang 14 persen sedangkan gizi buruk 7 persen. “Sesuai target MDGS, pada tahun 2015, kasus gizi kurang dan gizi buruk harus di bawah 15,5 persen,” kata Kepala Dinkes Merauke, Stefanus Imanuel Osok. (02/AlDP)