Anggaran Biaya Pengadaan Obat di RSUD Wamena Sangat Minim

Anggaran Biaya Pengadaan Obat di RSUD Wamena Sangat Minim

Wamena-Banyaknya keluhan dari masyarakat Jayawijaya soal seringnya pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayawijaya di Wamena memberi resep untuk dibeli di Apotek luar coba dijawab oleh dr. Charles C. Ratulangi Sp. OG. Dokter ahli bedah yang baru sejak Maret 2014 ini diangkat sebagai Direktur RSUD Jayawijaya yang ditemui di Kantornya(27 Maret 2014),  mencoba menguraikan persoalan ini.

Menurutnya, seringnya pihak rumah sakit memberikan resep untuk dibeli di luar karena rumah sakit memang kesulitan menyediakan obat.

“Rumah sakit ini pembiayaannya masih sangat bergantung pada pemerintah Daerah. Semua kebutuhan kami tentang obat, alat kesehatan laboratoirum itu semua dipenuhi dari Pemda. Saya tidak tahu yang tahun sebelumnya tetapi untuk tahun ini saja untuk obat, bahan habis pakai dan laboratorium, kami hanya medapat 2, 5 milliar padahal untuk kalau kami hitung kami butuh sebenarnya 15-16 milliar; jadi bisa dibayangkan bagaimna itu sangat kurang,” ungkapnya.

Dengan dana tersebut pihak rumah sakit mencoba menyediakan obat, namun jika persediaan habis terpaksa pasien harus membelinya di Apotek luar rumah sakit.

Hal lain yang menjadi persoalan terkait obat di RSUD Jayawijaya menurutnya adalah kurangnya koordinasi antara para dokter sebagai pengguna obat dengan bagian yang merencanakan pengadaan obat.

“Seringkali obat yang kurang diperlukan malah itu yang dibeli dan itu dalam jumlah yang banyak pula. Sementara yang kami perlukan justru tidak ada. Ini kan masalah?” ungkapnya lagi.

Waktu pengadaan obat. Sistem pengadaan obat biasanya proyek datang baru bulan April atau Mei seseuai dengan waktu dimulainya proyek-proyek di Pemerintahan sehingga waktu-waktu awal tahun adalah waktu yang kritis untuk rumah sakit.

Menurutnya situasi ini tidak hanya membebani pasien tetapi juga pihak rumah sakit terutama para dokter dan perawat. Karena pun akhirnya kesulitan bekerja melayani pasien jika ternyata obat yang diperlukan ternyata habis. Selama ini pun jika persediaan obat di rumah sakit menipis maka pihak rumah sakit dengan segera mengajukan permohonan pengadaan obat ke Pemerintah Daerah lewat Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya. Juga pasien swasta yang dirasa mampu maka semua resep obatnya akan dikirim keluar.

Karena itu untuk mengatasi masalah obat ini ke depan akan dilakukan berbagai pembenahan. Mekanisme pengadaan obat di dalam rumakan diatur lagi. Selain itu Rumah sakit ini sedang dalam prooses menjadi Badan Usaha Layanan Publik (BLUD).

“Kalau itu sudah terwujud, di satu sisi itu akan lebih meningkatkan pelayanan kami karena akan ada banyak birokrasi yang perpotong. Misalkan kami butuh obat. Selama kalau kami butuh obat maka kami minta ke pemda uangnya. Kalau BLUD kami langsung kelola sendiri uangnya. Jadi jalur birokrasu dipersingkat” Pungkasnya.

Mengomentari  kecurigaan masyarakat soal kaitan resep obat yang banyak dikirim keluar dengan banyaknya dokter yang membuka praktek dan Apotek di Kota Wamena, dr. Charles juga memberikan penjelasannya.

“Kami di sini kan sudah banyak tenaga spesialis. Tentu dia ingin memberikan yang terbaik. Ilmunya dia bisa berikan obat-obat yang spesialistik. Obat-obat yang spesialistik ini Rumah Sakit tidak bisa sediakan, otomatis harus beli di luar” jelasnya.

Terkait harga obat di Apotek-apotek yang mahal, beliau tidak banyak berkomentar. Menurutnya harga obat sangat bergantung pada mekanisme pasar.(AS/AlDP)