Ancaman Bahaya Bagi Warga Sepanjang Kali Mannainumi

Ancaman Bahaya Bagi Warga Sepanjang Kali Mannainumi

Yapen-Kehidupan warga yang berada di sepanjang kali Mannainumi terancam khususnya bagi mereka yang ada di kampung Yapan, Mantembu, Anotaurei dan Famboaman. Menurut salah satu anggota Bamuskam kampung Yapan bahwa kehidupan terasa berbeda sejak PT Sinar Purna Karya (SPK) melakukan aktifitas pengambilan material galian C di Anotaurei.

Lokasi perumahan yang berada sekitar 50 meter dari kali, kini hanya tinggal 10-20 meter saja. Ini membahayakan bagi warga masyarakat yang tinggal disitu. “Kami sudah diskusikan ini dalam rapat-rapat di kampung hanya belum ada realisasinya,” tambahnya yang juga diamini oleh Hendrik anggota Bamuskam lainnya ketika dihubungi AlDP Online pertengahan Mei lalu.

Menurut Hendrik bahwa untuk pembangunan di kampung mereka mengumpulkan dan menggunakan material secukupnya, material tidak juga dijual ke pengusaha. Namun bagi warga yang ada di bagian bawah yang berbatasan dengan kampung Anotaurei itulah yang mengambil material untuk dijual. “Namun kita mau bagaimana lagi, mau ditegur tidak enak karena ini semua demi kepentingan perut”.

“ Kami tidak menjual material karena kami tahu bahwa kehidupan kami akan terancam jika material ini habis,” kata Yahya Warkawani.  “Kehidupan kami terancam karena ketika banjir, air kali akan naik hingga perumahan warga. Kehidupan kami saat ini masih dalam kecemasan apalagi jika hujan lebat melanda Serui”.

Menurut Musa Aninam, kehidupan mereka berbeda jauh dengan dulunya. Kalau dulu mereka bisa mendapatkan udang, kepiting belut dan ikan di sepanjang kali tapi kini sudah tidak ada lagi. Air yang dahulu bersih dan bisa digunakan untuk minum kini sudah tercemar karena warga buang sampah sepanjang kali dan juga karena aktifitas pengambilan material dengan alat berta milik PT.SPK.

Bahkan di beberapa tempat kali sudah melebar dan ada juga yang sudah habis materialnya nampak hanya tanah liat yang berwarna kecoklatan. “ Ini yang membuat air kali berwarna coklat ketika terjadi banjir, tambah Musa. Dampak lain adalah ketika mereka hendak membuat sumur, “dahulunya bisa mendapat air namun kini sudah tidak bisa lagi,” Ujar Musa yang juga ketua RT di Anotaurei.

Menurut Yeheskiel Runaweri, staf Advokasi Lembaga Studi Masyarakat Manna Papua (LSMMP) bahwa kondisi ini dikarenakan lemahnya peran pemda dalam mengakomodir persoalan lingkungan di Yapen. Saat ini daerah belum mempunyai sistem informasi lingkungan daerah. “Persoalan kali juga termasuk didalamnya,” tambah laki-laki asli pantai Lori ini. Posisi Pemda terkesan tidak berdaya terhadap pengusaha (PT.SPK). “pengusaha melakukan aktifitas perusakan lingkungan, tetapi Pemda justru membiarkan aksi ini berlangsung terus menerus tanpa memperhatikan aspirasi dari masyarakat,” terangnya.

Katanya lagi, masyarakat meminta  untuk dilibatkan dalam pengelolaan kali serta menjaga agar fungsi kali tetap terjaga sesuai kearifan lokal. Masyarakat juga berharap ada Perda yang mengatur mengenai pengelolaan kali tapi justru Pemda dan DPRD mengeluarkan Perda Pemungutan pajak dari galian C. “Jadi pemda hanya mengutamakan hak mereka untuk memungut pajak sementara kewajiban mereka agar menjaga kali bisa tetap lestari dan menjaga daya dukung llingkungan malah diabaikan. Ini akan mengancam kehidupan warga di sepanjang kali Mannainumi ke depan,” tambahnya.(04/AlDP)