Aktor Yang Men design Konflik DI Papua Tidak Berubah

20170524_125840Jayapura – “Kejadian ini terjadi juga di Wamena sebelumnya. Isunya main bunuh. Isu pada pemilihan kepala kampung, kepala distrik dan sekarang siap-siap untuk pemilihan bupati(di Wamena) dan Pilgub,” Ujar Pastor John Jonga Pr saat menghadiri diskusi untuk meng up date situasi terkini di Papua di AlDP, Padang Bulan Jayapura(24/05/2017).

“Bisa saja terjadi provokasi antara calon-calon sampai ke pusat. Kondisi ini menjadi sumber bencana di Papua sampai tingkat nasional”.

Pastor Jhon menyebut ada provokasi terhadap kandidat tertentu menjelang Pilgub. Menurutnya cara-cara seperti itu sangat tidak manusiawi, setiap orang memiliki kelemahan dan ketika bagian terpenting dari dirinya diserang maka konflik akan terus bergulir.

Lanjutnya,”Kalau kita baca  dari dulu, saya pikir ada orang-orang yang memiliki kapasitas untuk mengatur skenario. Sehingga kelompok ini (yang mengatur skenario) memiliki kekuatan secara khusus dari Negara, melihat kondisi Papua yang makin sulit dikendalikan oleh Negara”.

Pernyataan Pastor John Jonya diperkuat oleh Pares Wenda, aktifis HAM yang juga anggota dari Jaringan Damai Papua(JDP).

Menurutnya, aktor yang mendesign kekerasan di Papua tidak berubah walaupun methodenya berubah-ubah dari pelanggaran HAM diarahkan ke kriminalisasi.

“Di putar-putar oleh aktor yang sama. Ada target pada orang Papua. Saat mau dihabisi Arnold AP dan Theys hanya ada isu dan orang ketakutan.T api waktu Mako Tabuni ada pembunuhan orang-orang dari luar dan orang Papua. Gayanya dibuat kriminalisasi tapi karena aktornya sama maka bisa dibilang Pelanggaran HAM.

Isu-isu seperti pilkada, Freeport dan figur-figur tertentu untuk calon gubernur sebagai bumbu yang bagus untuk dikelola oleh aktor yang sama. Kalau kalau aktor  tidak berubah maka orang Papua mau merdeka. Aparat kepolisian selalu menyebut pelaku yang tidak atau belum  dikenal  dengan istilah OTK atau Orang tak Dikenal.

“Tapi istilah yang harus disepakati OTK  adalah Orang Terlatih Khusus”.

“Kita mau minta polisi mengusut tapi kalau dia tidak bisa karena ini berulang. Mereda hanya 1 tahun kemudian isu baru muncul. Kalau saya mau simpulkan slow motion  genoside terjadi terhadap suku-suku tertentu di Papua. Maka konflik Papua tidak akan berakhir”.(Tim/AlDP)