AKIBAT OKNUM BRIMOB BERULAH, 3 PELURU BERSARANG DITUBUH WEAK WANTIK(16)

AKIBAT OKNUM BRIMOB BERULAH, 3 PELURU BERSARANG DITUBUH WEAK WANTIK(16)

Wamena-Pada hari minggu 07/09/2014, pukul 07.00 Wp Pagi terjadi penembakan oleh aparat BRIMOB terhadap korban,Weak Wantik(16) bertempat Jalan Wamena-LaniJaya tepatnya Kampung Kosiaphe Distrik Muliama.

Kejadian itu berawal, korban dari Wamena hendak pulang ke kampung dengan mengunakan Taksi jurusan Kimbim-Pyramid, sesampai di tempat kejadian korban turun dari mobil yang ditumpanginya. Sesaat kemudian datang 2(dua) mobil jenis extrada dari arah Lanijaya tujuan Wamena.

Korban yang saat itu dipengaruhi alcohol(minuman local) mengira mobil yang datang adalah bosnya setelah melihat warna mobilnya sama (korban adalah karena kondektur extrada Wamena-Lanijaya).

Dari jarak sekitar 30 m korban meminta mobil berhenti hanya untuk minta sebatang rokok, namun setelah jarak sekitar 10 m korban melihat 2 mobil extrada itu ditumpangi oleh aparat Brimob dengan mengunakan rompi anti peluru disertai senjata lengkap. Melihat itu korban takut dan melarikan diri, namun tiba-tiba 2 mobil extrada tadi berhenti kemudian aparat Brimob turun dari mobil dan langsung mengarahkan tembakan kearah korban yang sementara lari sebanyak 3 kali tembakan.

Korban merasakan tembakan peluru pertama bersarang di tubuhnya bagian kaki kiri pasnya betis samping belakang dan tembus depan setelah jarak 40 m. Tak lama kemudian (sekitar 2 detik) tembakan ke dua kembali bersarang di tubuh yakni di kaki kiri lagi lutut belakang dan tembus depan, selang sekitar 3 detik tembakan peluru ketiga mengenai paha kiri belakang tembus paha depan.

Walau ketiga peluru mengenai korban namun karena tubuh korban yang saat itu dikuasai alkohol sehingga tidak merasakan sakit. Korban baru merasakan sakit setelah jarak 80 m saat lari menyelamatkan diri.

Korban yang saat itu berlumuran darah masih tetap lari walau pada jarak sekitar 80 m telah merasakan tembakan itu, karena mengira aparat masih mengejarnya. Selanjutnya karena darah terus mengalir maka pada jarak 145 m korban sudah tidak berdaya dan langsung tergeletak di pingir jalan tidak sadarkan diri (pingsan) ditempat (seperti terlihat pada foto).

Setelah 20 menit kejadian itu salah seorang ibu, ibu Tabuni datang ke TKP karena ibu Tabuni merupakan salah satu orang yang sempat menyaksikan kejadian itu dari jarak sekitar 90 m. Ibu Tabuni kemudian secara perlahan mendekati TKP untuk mencari tahu siapa yang terkena tembakan.

Setelah ibu Tabuni tiba di TKP ternyata tidak ada bekas korban yang ditembak, karena penasaran selanjutnya ibu Tabuni perlahan bergerak kearah dimana korban melarikan diri, setelah jarak 40 meter Ibu Tabuni menemui tetesan darah yang mengarah/menunjukkan tempat korban melarikan diri.

Sesampai di jarak 145 m Ibu Tabuni menemukan korban yang tergeletak di pingiran jalan kampung bersimbah darah. Selanjutnya Ibu Tabuni berteriak agar warga datang melihat korban. Tidak lama kemudian salah seorang Ibu bernama, Marta Wuka yang adalah orang kedua yang datang melihat korban bersimbah darah. Beberapa menit kemudian datang lagi Kepala Kampung tetangga yakni kepala kampung Kewin, Set Elopere dan seorang kepala sekolah SMP Kristen Muliama, Wilem Wetipo. Tidak lama kemudian warga 2 kampung yakni Kampung Kosiaphe dan Kampung Kewin datang ke tempat dimana korban berada.

Pada pukul 11.15 wp korban dilarikan ke RSUD Wamena mengunakan Taksi kijang untuk menjalani perawatan. Korban selanjutnya diperiksa oleh dokter. Dokter yang memeriksa memberi keterangan bahwa luka korban adalah luka tembakan.

Selanjutnya korban dirawat di ruangan Bangsal I RSUD Wamena. “ saat saya dalam perawatan medis aparat keamanan terus menerus datang ke tempat dimana saya dirawat, melihat itu saya tambah takut lagi” ujar korban.

Setelah korban sementara dirawat dirumah sakit, pada pukul 14.30 wp Kedua Kepala kampung, Kepala kampung Kosiaphe dan kepala kampong Kewin serta kepala sekolah SMP Kristen Muliama, Wilem Wetipo serta beberapa tokoh adat datang menemui Kapolres Jayawijaya untuk memberitahu kejadian itu dan meminta mengungkap kasus itu.

“ Kami sudah ketemu bapak Kapolres Jayawijaya tapi bapak Kapolres katakana bahwa kami tidak bisa memastikan siapa pelakunya sebab korban tidak menghafal nomor plat extrada tersebut, sebab setelah koordinasi ke Polsek Tiom,Kabupaten Lani Jaya menurut keterangan Polsek Tiom bahwa tidak ada anggota yang berangkat ke Wamena pada hari minggu 07/09/2014” ujar wali korban(Ererai Wetapo).

“Bapak kapolres berjanji akan mengungkap kasus tersebut,” tambahnya.

Walau Kapolres Jayawijaya katakan akan mengungkap kasus tersebut namun Pihak Polres Jayawijaya tidak melakukan olah TKP, hingga tim pencari fakta yang dikoordinir oleh Pastor Jhon Jonga turun ke TKP, mereka tidak menemukan Police Line(garis polisi).

Setelah tujuh hari korban menjalani perawatan, korban merasa tidak aman untuk melanjutkan perawatan karena aparat keamanan terus memantau korban, olehnya itu pada hari minggu 13/09/2014 korban bersama keluarga meninggalkan tempat perawatan tanpa memberitahu petugas medis walau jahitan lukannya belum kering demikian penuturan korban.

Selanjutnya korban diantar keluarga langsung pulang ke kampung Kosiaphe dimana tempat tinggal mereka.

17 hari kemudian karena pihak Polres Jayawijaya tidak ada reaksi untuk mengungkapkan kasus tersebut maka pada Selasa 23/09/2014 sekitar pukul 08.30 wit, pihak orang tua korban datang kepada Seorang aktivis HAM Papua, Pastor Jhon Djongga,Pr untuk meminta pertolongan advokasi Kasus tersebut di Honai Pastoran Hepuba.

Selanjutnya Pastor John mengutus tim ke lokasi TKP untuk memastIkan kebenaran kejadian tersebut, dan ternyata penembakan terhadap Weak Wantik benar-benar terjadi.

Korban saat ini sudah dapat berjalan kembali namun kaki kirinya masih terasa berat untuk melangkah karena uratnya terputus oleh peluru.

Sumber Laporan : Tim Pemantau YTHP di Wamena