Berita

AISWMM Desak Tutup Tambang Emas Degeuwo

Jayapura – Aliansi Intelektual Suku Wolani, Mee dan Moni, Kabupaten Paniai mendesak pemerintah menutup tambang emas tradisional di Degeuwo. Daerah pendulangan emas di Paniai sebelumnya berada di Kampung Nomouwodide, Distrik Bogobaida.
Pada akhir tahun 2002, tembang emas berpindah ke Tagipige, Kampung Nomouwodide, Distrik Bogobaida, atau di wilayah adat Suku Mee dan Suku Wolani. “Kita minta agar ditutup, kami tidak mau areal itu dijadikan Wilayah Pertambangan Rakyat,” kata ketua AISWMM, Thobias Bogubau, Kamis.
Ia mengatakan, tambang emas tanpa ijin akan berakibat pada rusaknya lingkungan, meningkatnya penyebaran penyakit HIV AIDS serta rusaknya moral masyarakat. “Disana ada banyak tempat prostitusi, AIDS sudah menyebar. Ada juga pelanggaran HAM disana, intinya tambang itu hanya untuk kepentingan orang-orang tertentu saja, bukan untuk pemilik tanah,” ujarnya.
Menurutnya, alasan penolakan pembentukan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) di Degeuwo dilatari tiadanya kepastian WPR akan menjamin kehidupan masyarakat lebih sejahtera. “Dimana jaminannya. WPR hanya untuk kepentingan perusahaan saja. WPR juga berbahaya, pertanyaannya, apakah dengan WPR, lingkungan akan tetap terjaga, apakah tidak akan ada lagi penyebaran virus HIV, ataukah dengan WPR, lingkungan dan penyakit berbahaya akan makin bertambah,” paparnya.
Ia menyarankan agar pemerintah meninjau kembali rencana pembentukan WPR serta menelaah latar bekalang dari planning tersebut. “WPR harus dihentikan karena dapat menyengsarakan masyarakat, tutup saja.”
Terhadap polemik tambang rakyat Degeuwo, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Paniai pernah menetapkan Perda Paniai, Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Usaha Pertambangan Emas. Perda itu kemudian menjadi dasar Dinas Pertambangan Paniai, dapat memberikan Ijin Usaha Pertambangan dalam wilayahnya pada batas tertentu.
Selanjutnya, berdasarkan UU 4 Tahun 2009 dan Perda Paniai Nomor 16 Tahun 2009, Pemerintah Paniai di tahun 2010 mengeluarkan Ijin Usaha Pertambangan kepada PT. Madinah Qurataain, CV.Computer dan PT.Salomo Mining. “Ketiga perusahaan itu hanya bikin rusak lingkungan, tutup tambang dan jangan pernah mereka masuk lagi ke Degeuwo,” kata Thobias. (02/ALDP)