Ada Warga Muting Tak Mampu Beli Raskin
Perempuan Hepuba Lagi Berdiskusi

Ada Warga Muting Tak Mampu Beli Raskin

Ilustrasi raskin

Merauke–Penyaluran jatah beras miskin di Distrik Muting, Kabupaten Merauke, ternyata tak seluruhnya didapat warga tak mampu di wilayah itu. Beberapa kepala keluarga terpaksa ‘mundur’ karena harga beras dinilai begitu tinggi.

“Saya tidak beli karena tidak ada uang, biar makan sagu saja, ada ikan juga, tinggal jaring saja,” kata Paskalis Pitsakay, warga Muting, belum lama ini.
Ia mengatakan, harga raskin 15 Kg sebesar Rp60.000. Sementara untuk 50 Kg, harganya Rp200 ribu. “Harga raskin juga turun naik, kadang murah, kadang mahal, saya tidak ada uang beli raskin,” ujarnya.
Harga raskin di Distrik Ulilin, 15 Kg sebesar Rp45 ribu. Padahal jarak ke Muting dan Ulilin tidak berbeda jauh. “Di Ulilin sudah dibagi, kita disini kadang tertunda, tapi penyalurannya pasti ada, mungkin jalan yang tidak baik, bikin penyaluran raskin terlambat,” kata dia lagi.
Pitsakay, satu-satunya orang Asmat yang tinggal di Muting. Hidupnya begitu sederhana dengan rumah dari papan. Sebagai petani kecil, Pitsakay tidak selalu mempunyai uang untuk kebutuhan sehari-hari. “Saya sudah tinggal lama disini, kawin dengan orang Muting, saya belum pernah pulang ke Asmat,” ucapnya.
Kepala Distrik Muting Merse Mahuze menjelaskan, penyaluran raskin diperuntukkan bagi warga tak mampu. Di Muting, sebagian besar mendapatkannya dengan harga terjangkau. “Kalau ada yang tidak dapat, itu bukan karena ada kesalahan dalam penyaluran, itu kan harus kumpul uang, nah, ada biasa yang tidak kumpul, jadi tidak bisa dapat raskin,” paparnya.
Ia mengakui sejumlah kepala keluarga di Muting masuk dalam kategori miskin. “Pemerintah selalu berupaya membantu mereka yang tidak punya, program pemerintah tahun ini saya kira sudah bagus, yaitu dengan satu miliar masuk kampung, itu diharap dapat dikelola dengan baik untuk peningkatan ekonomi masyarakat.”
Gori Ndiken, warga Muting menambahkan, raskin sangat dibutuhkan mereka. “Sangat butuh, tapi kalau tidak ada, kita biasa makan sagu. Kalau beli beras dari kios agak mahal.”
Gori berharap jatah beras murah jangan sampai diselewengkan. “Itu kan untuk orang kecil, di kota mungkin ada orang mampu beli beras itu baru dijual lagi, itu kita tidak suka, mohon ada pengawasan agar beras itu dperuntukkan hanya untuk warga miskin,” pungkasnya. (02/AlDP)