Ada Papua Black, Brown dan Papua White

Ada Papua Black, Brown dan Papua White

Jayapura – Frans Reumi, akademisi Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih mengatakan penting membangun konsolidasi diantara masyarakat adat di Papua.

“Orang Papua harus aktif melakukan konsolidasi secara internal, jika tidak dari hari ke hari kondisinya akan sama saja,” katanya saat menyampaikan makalah di Forum Grup Diskusi Perspektif Hak Asasi Manusia oleh Jaringan Damai Papua di Jayapura, Rabu (27/02/2013).

Konsolidasi internal bukan saja terkait perbedaan bentuk-bentuk kepemimpinan di dalam masyarakat adat, tapi juga untuk memahami berbagai perkembangan yang terjadi.

Menurutnya, sebelum ada negara, Papua sudah sangat plural apalagi dengan adanya interaksi berbagai eksistensi. “Jangan terjemahkan Papua sebatas Papua black, sekarang ada juga Papua Brown dan Papua white!” katanya.

Baginya, Otonomi Khusus bukan seluruhnya untuk orang Papua. Otsus bukan tunggal tapi plural. “Mari terjemahkan semua ini melalui konsolidasi yang baik,” ucapnya.

Di bagian lain, Frans Reumi juga mengingatkan agar tidak melakukan generalisasi dalam melihat situasi di Papua. “Kondisi (melihat dengan cara menggeneralisir) ini sudah berlangsung lama, maka mari sekarang ubah pendekatan dan mulai dari apa yang ada dalam diri orang Papua,” ajaknya.

Ia berpendapat, perlu sekali lagi merumuskan defenisi mengenai orang Papua dan kepentingan yang ada. Tujuannya untuk mempermudah komunikasi dan saling memahami diantara berbagai subyek hukum di Papua.

FGD tersebut dihadiri para akktifis HAM, narasumber dari Kanwil hukum dan HAM Provinsi Papua serta Ferry Marisan, Direktur Elsham Papua. Acara dipandu oleh Anum Siregar, Direktur Aliansi Demokrasi untuk Papua. (Tim/AlDP)