Berita

Ada Kesan “Pendatang” Jadi Benteng NKRI

Suasana Diskusi Kelompok Kajian Indikator Papua Tanah Damai di Manokwari

Manokwari-Semua peserta Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai yang diselenggarakan oleh AlDP bekerjasama dengan JDP dan Tifa Foundation sepakat bahwa semua orang yang hidup di Papua membutuhkan rasa aman.(13/10/2012).

Ada kesan bahwa istilah pendatang dan Papua sering dipertentangkan saat terjadi moment politik seperti peristiwa Pilkada. Apalagi setelah adalah legalisasi yang membedakan antara ‘orang asli’ dan ‘bukan asli”.

Diakui bahwa di tingkat organisasi paguyuban ada proses yang harus diperbaiki karena biasanya para tokoh organisasi paguyuban  yang terdiri dari orang tua, cenderung sibuk dengan urusan internal.

“Seharusnya kelompok muda membangun komunikasi dengan pihak lain,”ujar Patriks tokoh muda dari Ikatan Keluarga Toraja(IKT) di Manokwari.

Selain itu diakui bahwa antara Papua dan pendatang mulai muncul ketegangan.

“Harus dipahami ada ’sentimen’ yang akan memunculkan konflik terbuka antara Papua dan pendatang, saling berhadap-hadapan jelas antara penduduk asli dan pendatang,” Ujar peserta lainnya.

Bahkan ada peserta yang mendengar munculnya nada provokatif terhadap pendatang akibat situasi yang akhir-akhir ini berdampak negative terhadap pendatang termasuk sejumlah aksi kekerasan yang mengakibatkan pendatang menjadi korban. Situasi saling berhadap-hadapan seolah sengaja diciptakan.

Ida Bagus asal Hindu Bali yang sudah 40 tahun hidup di Manokwari turut membenarkan adanya situasi tersebut terutama pada tahun 1999. “Akibat kondisi politik saat itu menyebabkan paguyuban banyak muncul”.

Dirinya juga mengakui ada perkataan dan kesan bahwa pendatang di Papua menjadi ’bentengnya NKRI’ seperti penjelasan peserta lainnya.

“Sebenarnya tidak begitu,” katanya kemudian. “Kita hidup harus saling berdampingan, berkomunikasi dan selalu mencari penyelesaian masalah yang win-win solution”.

Kasiran dari Paguyuban Maluku Utara yang juga seorang anggota Polri menambahkan  bahwa yang terpenting adalah saling menghargai perbedaan baik suku maupun agama dan harus membangun hubungan yang sejajar.”Sehingga kita pergi ke manapun tetap diterima,” jelasnya.

Di bagian akhir dari diskusi tersebut muncullah berbagai saran dari peserta diskusi, antara lain bahwa perlu adanya pertemuan diantara kelompok paguyuban untuk menyamakan persepsi dalam membangun Papua tanah yang damai bagi semua orang.

“Selain itu perlu ada pertemuan dan komunikasi intensif antara pendatang, papua dan pemerintah setempat”.

 “Disinilah pentingnya dialog diantara semua pihak agar tidak saling merugikan. Bayangkan bila dalam konflik ada pendatang yang menjadi korban kemudian saling membalas, siap-siap, ini respon yang tidak konstruktif. Bahwa Papua dan pendatang mempunyai kepentingan bersama untuk Papua yang damai,” tegas Dr.Muridan Satrio Widjojo yang turut memberikan tanggapan.(Tim/AlDP).

  • gastor_papua

    kita orang indonesia selama masih menginjakkan kaki di bumi pertiwi,jangan lah mempolitisir keadaan hanya untuk kepentingan sebagaian pihak di papua dan untuk kepantinga semata kepentingan pribadi.