Abrasi di Waindu Sudah Mengkhawatirkan

Yapen – Pantai Lori dikenal banyak orang sebagai wilayah yang rawan karena sering terjadi kecelakaan motor laut. Wilayah pantai ini mulai dari kampung Waindu hingga tanjung di kampung Woda. Orangpun menyebut kawasan ini sebagai pantai neraka.

Kawasan pantai memang langsung berhadapan dengan laut pasifik sehingga setidaknya perubahan iklim di pasifik akan mempengaruhi wilayah ini. Seperti terjadi Tsunami pada tahun 1996, perumahan warga banyak hancur terkena dampaknya  karena rata-rata perumahan warga berada di pesisir pantai.

“Dalam setahun hanya sekitar 4-6 bulan yang mengalami lautan teduh dan sisanya mengalami ombak. Kondisi gerak laut ini mengakibatkan wilayah ini rawan terjadi abrasi,” kata Sokrates Rumkorem pejabat kepala kampung Waindu.(09/07/2012).

Untungnya dari semua wilayah di pantai Lori hanya Waindu yang mempunyai areal semacam pelabuhan (tempat pendaratan perahu-red) selain di tanjung Andei. Oleh karenanya warga yang biasa ke Sewenui, Kororompui menambatkan perahunya di Waindu baru berjalan kaki ke kampungnya.

“Kami merasakan ada perubahan besar di wilayah pantai kami setidaknya 10 tahun belakangan ini, ” kata Amon Injoroweri mantan kepala kampung. Sekurang satu  dasawarsa ini air laut sudah merembes hingga 20-30 meter ke darat. Kami khawatir 20-30 tahun ke depan air laut sudah akan mencapai pemukiman warga yang sebenarnya juga pindah paska Tsunami 1996”.

Pohon kelapa yang menjadi sumber makanan bagi warga banyak sudah tumbang akibat hantaman ombak terus menerus, termasuk pohon-pohon lainnya sepanjang pantai. Masyarakat pernah mengusulkan agar ada perhatian pemerintah untuk memasang talud pantai berupa penahan ombak guna menahan laju abrasi.

Namun belum ada respon balik dari pemerintah.  “ Mungkin karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit walau sebenarnya ini merupakan kebutuhan agar kami selamat dari ancaman abrasi,” tambahnya. .(04/AIDP)